Tak Seindah Sakura

Tak Seindah Sakura

  • WpView
    Reads 10
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Mar 14, 2018
WpInfo
Non-Fiction
Tagsstory
Baginya Sakura bukan hanya sekedar bunga, namun juga cinta yang memberinya asa untuk memulai cerita. Seperti nama penanya yang terinspirasi dari bunga mungil nan indah ini, Sakura Azzahra. Sejak memutuskan hijrah menjadi wanita berhijab, semua mata seolah tertuju padanya. Mata-mata tulus yang menganggapnya indah penuh pesona kemuslimahan. Semua yang baik seolah dioper begitu saja padanya, bahkan kadang kala ia dianggap seolah guru hebat yang faham akan islam, fasih. Sering kali air mata akan tumpah dan mengalir deras akan pernyataan-pernyataan yang tak faham kebenaran. Namun begitu tertahan dan membeku sebelum tumpah. Kadang berulang kali dijelaskan hijabnya bukan tanda kebenarannya, bahkan aib mungkin saja berlapis di baliknya. Namun sekeras apapun usahanya menjelaskan, itu hanya dianggap bentuk kerendahan hati. Cobalah untuk mengerti teramat berat beban itu bahkan semakin bertambah beratnya kala ungkapan mulia tersematkan. Satu alasan yang pasti mengapa Sakura menjadi salah satu bunga yang ia senangi, sebab ia belum mampu menjadi seindah Sakura luar maupun dalam.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • PORTRAIT ☑
  • Hijrah Menjadi Seperti Fatimah Az-Zahra
  • THE BODYGUARD (SasuSaku) ✅
  • The Girl Who Made Me Sujud
  • Syair Cinta Az Zahra
  • SENSEI, ASSALAMUALAIKUM DESU!
  • TERHIMPUN RINDU~dalam  sujud cintaku
  • AZALEA
  • 🔞 LOST VOW 🔞 ✅

Peniel mendekat, ia memegang kedua bahu kecil Zahra dan menyiratkan penuh tanda tanya,"kau baik-baik saja? Zahra, apa kau marah karena kameramu?". Tak ada balasan, gadis itu hanya tertunduk dan terisak,"Zahra, katakan padaku, ada apa? Hmm?" Kasar, Zahra menepis lelaki itu,"aku tidak baik-baik saja! Ini sangat sakit... semuanya semakin menyakitkan... kupikir... kupikir... jika mengabaikannya akan baik-baik saja tapi bukannya menghilang justru semakin dalam..." dia menangis keras di depan Peniel, ucapan yang terdengar seperti curahan hati dan penuh kekesalan itu membuat Peniel tertunduk. "Nado..." dia kemudian mendongakkan kepala dan menajamkam matanya,"setiap hari aku tersiksa karena merindukanmu. Aku ingin berkata jika menyukaimu tapi... aku hanya dapat diam karena perbedaan kita. Aku selalu ingin tahu apa yang kau makan, bagaimana tidurmu, dan apa kau bahagia setiap waktu..." Selangkah lebih maju, dia kembali memegang kedua pundak Zahra,"ma'af... tapi aku menyukaimu. Jangan memintaku menjauh," Saya: iya, Bang. Dedek gakkan' menjauh...." peluk Peniel. 😂😂😂 itu bahasa saya. Gimana menurut ceritanya? Bwhahaaaa liat aja sendiri. Bhaks!!! Wkwkwwk....

More details
WpActionLinkContent Guidelines