"DHEAAA TUNGGUUU !!!!!" Teriak seorang laki laki dari belakang.Dhea menoleh dan menemukan Farhan sedang berlari.
"kenapa Far ?" tanya Dhea heran.
"gue mau ngomong sama lo " jawab Farhan.
"ngomong apa ?" tanya Dhea lagi.
"lo ma-mau ga jadi pacar gue ?" ujar Farhan gugup.
"Ja- jadi pacar lo" ulang Dhea.
Farhan hanya mengangguk sambil tersenyum.
"maaf Far, gue ga akan bisa ..." ujar Dhea sambil tertunduk.
" gabisa gimana dhe ? " tanya farhan merasa sedih
" gabisa nolak " ucap dhea sambil mengangkat kepalanya dengan senyum yang mengembang
Farhan yang melihat itu langsung tersenyum dan memeluk dhea
" makasih " bisik farhan ditelinga dhea
"Lo mau hubungan kita jadi kayak apa, Harlen?"
Qila menghentakkan tangan pria itu, lalu menoleh cepat dengan sorot mata tajam. Suaranya bergetar-bukan karena takut, tapi karena menahan amarah yang sudah terlalu lama disimpan.
"Aku... aku pengin hubungan kita jadi lebih serius," jawab Harlen pelan, nadanya seperti memohon.
"Serius?" Qila tertawa miris. "Serius kayak gimana? Kayak lo yang tiba-tiba udah punya tunangan tanpa bilang apa-apa ke gue?"
Harlen terdiam, tak sanggup membalas.
"Atau lo mau gue jadi simpanan, gitu? Tapi sayangnya, Harlen, gue bukan cewek murahan kayak gitu," lanjut Qila sambil memutar bola matanya, malas sekali menatap wajah pria di hadapannya.
"Bukan gitu maksud gue..." Harlen mencoba meraih tangan Qila lagi, tapi kali ini pun langsung ditepis.
"Gue capek dengar omongan lo yang manis-manis tapi ujung-ujungnya nyakitin. Lo bilang pengin serius? Lo bilang pengin perkenalin gue ke orang tua lo? Please, Harlen. Udah telat."
"Qila, tolong dengerin dulu..."
"Cukup." Qila menarik napas dalam-dalam, menahan emosi yang hampir meledak. "Ini terakhir kalinya kita ketemu. Setelah ini, gak akan ada lagi 'kita'. Gak sengaja ketemu pun, gue harap itu gak akan pernah kejadian. Gue muak liat muka lo."
Langkahnya cepat, pergi meninggalkan Harlen yang masih berdiri mematung di tempat. Tapi Harlen belum menyerah.
"Qila! Tunggu, dengerin dulu!"
Namun Qila tetap berjalan, masuk ke dalam taksi yang sudah menunggunya di pinggir jalan.
"Jalan, Pak," ucapnya pada sopir.
Taksi pun mulai melaju. Dari kaca belakang, bayangan Harlen terlihat masih mengejarnya, berteriak, memanggil namanya.
"QILAAAA!"
Tapi Qila tak menoleh. Tatapannya lurus ke depan, seolah tak ada apa pun di belakang yang layak dilihat kembali.
Dalam hati, ia berbisik, Maaf, Harlen... tapi kali ini aku benar-benar udah gak sanggup.