The Bad Boy And Arrogant Girl

The Bad Boy And Arrogant Girl

  • WpView
    Lecturas 596
  • WpVote
    Votos 174
  • WpPart
    Partes 7
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mié, ago 12, 2020
WpInfo
Ficción
Romance
Tiga senti.. Dua senti.. Satu senti.. Dan kurasakan hembusan nafas nya ke wajahku karena sedikit menahan marah karena ulah ku ini tentu nya. Sedetik kemudian bibirnya sudah menyatu dengan bibirku. Sontak dia pun membelalakkan mata nya dan mengerjap - ngerjapkan nya. Tanganku yang masih memegang kotak itu, kemudian berjalan menuju pinggangnya dan satu tangan ku lagi memegang tengkuk nya. Ya Thalita masih diam. Mungkinkah ini ciuman pertama nya? Ah tidak mungkin. Tapi ku rasakan kedua tangan nya berjalan menuju pundakku, dan bibirnya juga mulai bergerak di sana. Aku sangat senang jika dia membalasnya. Tapi kemudian.. . . By : @NovitaAditya
Todos los derechos reservados
#59
tereliye
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • My Little Monster - Completed
  • IZINKAN AKU MEMILIH [TELAH TERBIT]
  • Lonte Vs Gigolo (The Coli Trilogi I) (End)
  • Only You Can Love Me This Way (ON GOING)
  • Our Tragedy
  • CINTA UNTUK SENJA
  • Angel

Mata itu tiba-tiba terbuka dan menatapku. Langsung ke manik mataku. Aduh, copot deh ini jantung. Tali mana tali, buat ikat jantungku biar nggak jatuh. Hiks tolong.... "Kamu jangan pergi, temani aku disini," ucapnya pelan lalu memejamkan matanya lagi. "Hah? Mm... iya," gumamku sambil mengangguk pelan, meski ia tak melihatnya. "Kakak kenapa mabuk?" tanyaku memastikan apa ia bisa di ajak berbicara dengan normal. Lagi pula orang mabuk biasanya akan berkata jujur. Ku pikir dia ada masalah, meski jahat sih jika mendengar curhatan orang yang sedang mabuk, sedangkan aslinya ketika sadar ia akan memusuhiku lagi. Ilsya hanya tersenyum dalam tidurnya. Lantas tak lama bibirnya tiba-tiba melengkung kebawah, terlihat cemberut. Aku nyaris tersedak liur menahan tawa melihat ekspresi wajahnya yang dapat berubah-ubah dengan sendirinya. "Aku nggak suka liat kamu dengan orang lain." Jawabnya dengan raut wajah yang masih sedih. WHAATT?!! Ng-nggak suka, aku dengan yang lain? Sialan Monster ini, meski dalam keadaan mabukpun dia masih bisa membuatku grogi. "Maksud kakak apa?" tanyaku penasaran. "Aku suka kamu, bodoh!" jawabnya lantang, terdengar jelas di telingaku. Jedaaaaaaar...... Siapa yang sangka jika cinta bisa hadir dari rasa benci, dari caci, dari maki. Hinggi bersemi dalam hati tanpa bisa dipungkiri. Cinta ya cinta, tak memandang status, tak mmandang harta, derajat, ras, agama, dan jenis kelamin. Jika cinta telah menancapkan panahnya, siapapun takkan mampu menampiknya.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido