Memory Dikala Hujan

Memory Dikala Hujan

  • WpView
    Reads 179
  • WpVote
    Votes 34
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Mar 29, 2018
WpInfo
Fiction
Romance
Semua orang pasti memiliki masa kehilangan,karena pada hakikatnya semua orang tidak ingin meninggalkan dan ditinggalkan. - rnhfza _________________________________________ Gadis bernama nilam purnama, seorang gadis cantik dan memiliki lesung pipi yang indah, namun ia memiliki masa lalu yang membuatnya begitu terpuruk, dan kelam. Namun dia tidak ingin lari dari masalahnya, dan ia tidak ingin menutupi masalanya yang ia ingin hanya satu menyelesaikanya dengan caranya sendiri. Itulah Nilam gadis yang penuh dengan kesabaran dan pantang menyerah. Ini adalah kisah seorang gadis melalui alur maju mundur, masa lalunya dan masa yang ia hadapi sekarang. Inilah memori dikala hujan, terkadang hujan membawa kebahagiaan, terkadang juga hujan membuat larut dalam kerinduan ***** By : Rahma nur hafizhah A.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • Light Of Happiness [✓]
  • PRIHAL RUMAH DAN SEISINYA | ENHYPEN
  • Derena
  • Remorse
  • ETᕼEᖇEᗩᒪ ✔
  • Sebuah Rasa
  • Semesta dan Lukanya [TERBIT]

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines