Langit Venezia

Langit Venezia

  • WpView
    Membaca 188
  • WpVote
    Vote 16
  • WpPart
    Bab 4
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sab, Mar 24, 2018
Bagi kebanyakan jiwa tempat paling romantis didunia adalah Paris, kota Cinta. Namun diriku berbeda, aku menganggap tempat bukan faktor utama Cinta. sebab Cinta ku ada dibawah langit Venezia. "Hai wanitaku, lama tak bertemu.. Izinkanku kecup dahimu dalam anganku.. Adam ini Rindu.. Aku lah sang melankolis, sang munafik yang sedih, namun menahan tangis. hai wanitaku, tersenyumlah jangan iba. hai wanitaku ingin rasanya kuhabiskan tiap malam dibawah langit venezia berselimut ragamu yg lembut dan hangat. kelak.. akan kuceritakan pada keturunanku bahwa Venezia adalah kota penuh Cinta" Goresan Tinta ku pada selembar kertas di St. Mark Square, menuju kepulanganku menuju Jakarta. burung merpati ditempat ini seakan menjadi arak-arak kepergianku kembali ke Indonesia. selamat tinggal Italia, selamat tinggal Venezia, dan Selamat tinggal Dhea....
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Selepas Senja Pergi
  • LANGIT TERBELAH CAHAYA PURNAMA
  • Desahan Rindu
  • Sajak Rasa Tentangnya Yang Istimewa
  • From Leiden
  • Sasmita Nivriti
  • Madah Qolbu❣️
  • Highway 1009 ||Sim Jaeyun - Jake|| (TERBIT)
  • TOGETHER
  • sayangnya cila ke ciara

Ardika dan Amira adalah dua orang yang bertemu di antara kebetulan-kebetulan kecil-sebuah kertas yang terbuang, sebuah sapaan sederhana di taman kampus. Tidak ada yang tahu bahwa pertemuan itu akan membawa mereka pada kisah yang lebih panjang dari sekadar percakapan ringan di bangku taman. Sampai Ardika akhirnya mengerti. Bahwa cinta tidak diukur dari seberapa lama seseorang tinggal, tapi dari bagaimana ia tetap hidup, bahkan setelah senja pergi. ... Di persimpangan jalan, Ardika berhenti. Menatap langit yang bersih tanpa awan, hanya bintang-bintang yang berkelip kecil, seolah mengamati langkahnya dari jauh. Ia tersenyum, lalu menutup matanya perlahan. "Cinta itu tidak menunggu untuk dimiliki," bisiknya kepada malam. "Ia hanya ingin dirayakan, meski pada akhirnya ia harus pergi." Sejenak ia diam, membiarkan hatinya yang bicara. "Aku menulis namamu di antara bintang-bintang, supaya aku tahu ke mana harus menatap ketika rindu. Aku bisikkan namamu kepada angin, supaya ia membawanya ke mana pun aku pergi. Aku simpan suaramu dalam detak jantungku, supaya aku bisa mendengarmu. Dan aku akan selalu mencintaimu, seperti angin mencintai laut, seperti malam mencintai bintang, tanpa perlu bertanya kapan harus berhenti, bahkan Selepas Senja Pergi."

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan