Story cover for Digdaya Satire by cloudiamoon
Digdaya Satire
  • WpView
    Reads 30
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
  • WpView
    Reads 30
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
Ongoing, First published Mar 20, 2018
Ini Indonesia di tahun kemerdekaannya yang ke-139. Tempurung-tempurung kekuasaan merajalela, pasung-pasung melarat berebah-jimpah.

Si tamak berkuasa, para bedebah bersulang tuak, golongan rendah mengobral kehormatan, sang damai turut merapal do'a, sementara golongan tengah terombang-ambing mengikuti arus kemana alur membawanya. 

Hancur moral, rusak pulau, tergerus pikiran.

Selamat datang di negeri Indonesia di tahun menuju kehancuran-2084.
All Rights Reserved
Sign up to add Digdaya Satire to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 10
Avontur cover
story of palestine(SOP) cover
Langkah kita cover
Partner in Past cover
Permintaan MAAF cover
La fadz cover
Pulau Luka, Lautan Janji •||• Park Jeongwoo cover
Savior of world ( 4 gilr's from earth besiege to drak ) END cover
Dituliskan Takdir cover
Mutasir Kritis (PROSES) cover

Avontur

25 parts Complete

Hancur! Persatuan tak lagi dapat dirasakan. Ideologi-ideologi terbengkalai oleh opini yang tak pasti. Hidup dan bertahan dari sumber daya alam yang nantinya tak tersisa. Menyisakan penyesalan yang tak kunjung henti. Indonesia dengan teknologi di era industri ternyata tak membuahkan hasil. Seluruh teknologi yang membutuhkan sumber daya yang utama tidak dapat beroperasi. Transportasi pun sangatlah minim. Pada akhirnya, Indonesia kembali pada abad ke 18-an. Terkecuali pada sepetak daerah tertentu yang masih dapat merasakan kehidupan yang lebih baik, meskipun tidak sesempurna kala itu. Mereka, sekelompok remaja yang penuh akan pertanyaan tentang masa depan. Mencari jalan untuk kebahagiaan. Menggapai arti PERSATUAN. Sekelompok remaja dengan sifat berbeda, mencari sebuah kepastian. Sedikit kisah melodrama dan dibumbui romansa ada di dalamnya. Mewarnai kehidupan yang selama ini dipenuhi derita. Apakah Indonesia akan beragam dalam perjuangan yang dilakukan oleh para remaja itu? Ataukah takdir tak akan berubah, meski telah diperjuangkan?