Manivesto Menulis

Manivesto Menulis

  • WpView
    Reads 789
  • WpVote
    Votes 64
  • WpPart
    Parts 43
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Feb 27, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Pacarku bertanya perihal "manivesto menulis". Sekiranya gini ; "kenapa kamu sangat berhasrat kalo menulis sesuatu ?". Lalu aku seduh kopi abc susu hangat sambil menghisap ClassMild dari warung depan kosan. Kemudian aku menjawab : "Itu adalah caraku untuk mengoarkan kontribusi yang pada akhirnya semua akan mati, dan cara agar menentang intelektual kematian dalam pemikiran manusia". Pacarku tak mengerti apa yang aku katakan. Ia mengira itu terlalu lebay dan egois, karena menurutnya aku tak perhatian. Hewww Aku tau dunia kita berbeda dalam hal keilmuan. Dia bidan, aku hanya gelandangan aja. Dan itu adalah wajar, aku bersikap biasa aja. Percaya dan yakin suatu saat dipertemuan kita untuk mengakhiri pacaran ini, ia akan mengerti mengapa hasrat menulisku hadir di dunia. Dan salah satunya untuk mendokumentasikan kisah pacaran sebelum kita mengakhiri hubungan tersebut untuk menikah. Semoga saja.
All Rights Reserved
#252
diksi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Buku Ini Gak Konsisten, Tapi Ya Sudahlah
  • My Sweet Polar Husband [End]
  • Shyam Diary
  • JINGGA
  • Meet Again ; Ketika Kisah Belum Usai [End✓]
  • Aku Yang Tak Dianggap
  • Kehidupan "Kami" (TAMAT)
  • TITIPAN HATI (END)
  • Stop It, Darka! [END]

Hanya menuang segala kata dalam hiruk-pikuk kehidupan-merekam apa yang lewat, menuliskan apa yang terlintas, tanpa janji akan kedalaman atau kebijaksanaan. Tidak ada urgensi untuk menjelaskan, tidak ada kepentingan untuk dipahami, sebab dunia sudah penuh dengan orang yang mengira dirinya tokoh utama. Kata-kata berdiri sendiri, mengalir mengikuti arus yang tak selalu jelas arahnya, seperti rapat yang seharusnya bisa diselesaikan dengan satu email. Kadang tajam, kadang datar, sering kali hanya sekadar ada, mengisi ruang seperti iklan yang muncul di saat paling tidak dibutuhkan. Kadang melankolis, kadang sinis, kadang seperti bercanda tapi ternyata menyelipkan sesuatu yang dalam. Hidup ini kadang absurd kadang, ah sudahlah-namun makna di dalamnya juga sering lewat tanpa permisi. Saya pun sadar, tidak semua orang punya waktu untuk membaca sesuatu yang mungkin hanya sekadar refleksi seseorang yang terlalu banyak diam di pojok ruangan, mengamati bagaimana orang-orang tertawa, menangis, lalu pura-pura lupa bahwa mereka pernah melakukan keduanya. Tapi tenang saja, saya tidak akan memaksa Anda untuk membaca sampai selesai-membaca separuh lalu berpikir, "Ah, ini mah nggak masuk akal," juga merupakan bagian dari perjalanan menemukan makna, bukan? Maka, jika pada akhirnya tulisan ini lebih mirip tumpukan halaman tugas yang ditunda dikerjakan sampai tenggat waktu atau coretan iseng di pinggir buku catatan kuliah yang berakhir lebih eksistensial dari esai akademik-saya tidak akan terkejut. Seperti manusia yang mencari hiburan, semua tulisan ini juga mungkin sedang mencari pembacanya yang tepat, atau setidaknya, seseorang yang cukup penasaran untuk bertanya, "Ini cerita isinya apa sih?" sebelum akhirnya menguap dan kembali membuka media sosial. Jika Anda menemukan sesuatu yang berharga di dalamnya, anggap saja saya sedang beruntung. Jika tidak, ya, setidaknya saya sudah menyumbang satu tulisan lagi ke alam semesta ini.

More details
WpActionLinkContent Guidelines