We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
GILZA
  • WpView
    Reads 333
  • WpVote
    Votes 24
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jun 1, 2018
WpInfo
Fiction
Social Themes
Harus mulai dari mana aku menceritakan kisah hidupku yang berliku-liku? Aku takut kalian yang membaca kisahku menjadi merasa iba terhadapku. Karena pasalnya hidupku tidak semulus yang orang bayangkan. Memang, tidak ada orang yang hidup tanpa masalah. Semua orang pasti mempunyai masalah, namun bagaimana kita saja cara menghadapinya. Aku gadis yang mengidap penyakit yang cukup serius dan harus berobat jalan. Mungkin jika bukan karena kehendak Allah, pengobatanku ini hanya untuk menopangku hidup. Oke, aku akan memulainya dari kisah yang menurutku cukup 'membahagiakan' bagiku.
All Rights Reserved
#91
naira
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ALANA : A Stepmother's Journey to Love [ TELAH TERBIT ]
  • My Destiny
  • Mantan Kakak Ipar Rasa Pacar
  • Gengaman dalam Kegelapan
  • Suamiku Amnesia (REPOST)
  • BROKEN HEART [END]
  • Dear Fenly || Un1ty
  • Please, Love Me (END)
  • Perjalanan Cintaku...
  • Cinta dan Takdir Rania [End]

Alana Refasya adalah perempuan yang nyaris tak tersentuh, elegan, mandiri, dan dihormati di dunia mode. Di usia 32 tahun, namanya bukan sekadar label, melainkan simbol eksklusivitas yang bertengger di puncak industri. Setiap gaun rancangannya bukan hanya sekadar pakaian, melainkan seni yang membingkai keanggunan. Sosialita, selebritas, bahkan bangsawan berlomba mengenakan karyanya. Wajahnya menghiasi layar-layar raksasa di kota besar, terpampang dalam cahaya gemerlap yang menciptakan ilusi kesempurnaan. Namun, kesempurnaan adalah fatamorgana yang mudah runtuh saat berhadapan dengan kenyataan. Pernikahan dengan Erland Addison membawanya ke dunia yang tak pernah ia kenal sebelumnya, sebuah rumah yang megah, tetapi kehilangan makna sebagai tempat berpulang. Ada sesuatu yang salah di rumah ini. Mereka yang tinggal di dalamnya terlalu terbiasa untuk merasa tidak dicintai. Terlalu lama mengandalkan satu sama lain tanpa pernah benar-benar percaya bahwa mereka tetap membutuhkan sosok ibu atau pasangan hidup. Dan saat itu juga, kenyataan menghantam Alana dengan keras. Keluarga ini telah porak-poranda dalam genggaman perempuan yang seharusnya menjadi tempat pulang mereka. Hancur begitu saja. Mengikis keyakinan bahwa mereka pantas dan layak dicintai. Luka-luka lama mengakar begitu dalam, kepercayaan telah lenyap, dan di dalam rumah ini, rumah yang seharusnya menjadi tempat kembali-tidak ada ruang bagi siapa pun yang mencoba masuk. Anak-anak itu menatapnya dengan sorot mata waspada, seakan menunggu saat ia melakukan kesalahan. Mereka tidak butuh ibu baru. Mereka tak ingin percaya lagi. Dan Alana pun sadar... perjalanannya baru saja dimulai. Karena ia tahu, membangun rumah bukan sekadar memiliki dinding dan atap. Bahwa memenangkan hati tidak sesederhana merancang gaun yang sempurna. Dan di tempat ini, di antara hati yang telah lama kehilangan kepercayaan, ia mengerti satu hal, sekadar usaha tidak akan pernah cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines