PRAHARDI
"Karena cinta saja tidak pernah cukup, Pra."
Kalimat sederhana itu menggantung begitu pelik di tenggorokanku, membuat suara ini tercekat sesaat tiap kali aku ingin berbicara denganmu. Pra, hatiku hilang. Lupa jalan pulang. Kalau saja rindu yang terlepas
dapat ku jumlahkan, entah berapa banyaknya yang kutitipkan. Di sela-sela daun, lewat semilir angin,
lewat embun, lewat rintik hujan yang dingin
dan tiap-tiap langit kupandangi untuk disampaikannya kerinduan itu pada satu nama yang masih sama.
Sayangnya, rindu kali ini serupa udara yang berkali-kali harus kau hembuskan juga.
Pra, apakah cinta itu benar-benar buta? Hingga menyebut namanya saja aku kembali menggoreskan tinta.
Untuk mengenang Prahardi, aku kembali berteman dengan segenap raib yang bersembunyi di pilunya hati.
@literary_escapist