Story cover for Darkness by Ariesputry
Darkness
  • WpView
    Reads 127
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 10
  • WpView
    Reads 127
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 10
Ongoing, First published Mar 31, 2018
Mature
"Tolong..!!! bebaskan aku dari penderitaan ini, Tuhan tolong aku. Aku tak kuasa menahan penderitaan ini"

Untuk kesekian kalinya ia meratapi nasib yang menimpanya. Harus berapa lama lagi ia bertahan, berbagai cara ia lakukan. Dari aksi bunuh diri tapi dan sebagainya, tapi apa daya Tuhan masih mengininkannya hidup dan menderita setiap harinya.

"Aku tak sanggup, tolong aku.." Menangis tanpa henti setiap hari. Penderitaan yang tanpa henti selalu menghampiri hampir membuatnya gila.

Angin berhembus dengan sangat kencang, membuat gorden jendela berterbangan. Sang gadis yang sedang terduduk di lantai sambil memeluk lututnya merasa tertarik untuk melihat keluar jendela apa akan turun hujan.

"Bahkan kau menangis untukku" Ucapnya lirih, ia berdiri menghampiri arah jendela kamarnya. Dekat, dan semakin dekat hembusan angin semakin kencang menerpa wajahnya

Dilihatnya di balik jendela, angin begitu kencang suara gemuruh petir yang mengglegar tapi tak turun hujan. Dan seketika ia melihat ada hal yang aneh di balkon kamarnya, duduk bersender di kursi dan menyilangkan tangan.

"Siapa dia" Pikirnya

karna penasaran ia mulai mendekati pintu kaca yang mengarahkan ke arah luar balkonnya, perlahan ia membukanya. Dan terlihat dengan sangat jelas.

"Siapa kau.?"

Merasa pertanyaan itu untuknya, ia berbalik dan menatap mata sang gadis. Dan senyuman yang tak luput ia lupakan dengan sangat manis.

"Aku..
All Rights Reserved
Sign up to add Darkness to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
C by IniAku-BukanKamu
27 parts Complete
"Drama banget hidup gue. Bahkan sinetron azab pun tidak semenyedihkan ini, sial." Gadis itu menunduk, melihat ke bawah dengan tatapan kalut. Kemudian ia menatap ke atas langit, hujan, tak ada bintang. Hanya ada langit gelap yang sesekali menjadi begitu terang karena kilatan petir. "Mak, kenapa nggak ajak Clara sekalian, sih?" lirih gadis itu membiarkan air hujan menerpa wajahnya yang penuh luka lebam. Bahkan tetesan air di tangannya berubah menjadi kemerahan, bercampur dengan darah. Ia tak menangis, lebih tepatnya sudah lama ia tidak bisa menangis. Sebelum memutuskan keluar di tengah hujan lebat, ia menikmati kesendirian yang menyakitkan di emperan ruko tak jauh dari jembatan ini. Sendiri yang begitu sakit karena dadanya yang sesak dan tangannya yang tak berhenti mengeluarkan darah yang bersumber dari sayatan yang ia buat sendiri. Ia kembali menundukkan kepala. Memejamkan mata erat, membiarkan rasa sakit fisik dan mentalnya bersatu dengan gumuruh suara petir. Mungkin, ini terkahir kalinya ia menikmati rasa sakit itu. Karena ia memilih untuk, menyerah. "Lo gila?!" Gadis itu membuka kembali matanya, tangannya semakin terasa perih karena terbentur aspal jembatan. Tak lain karena dorongan pemuda yang saat ini menatap tajam ke arahnya. Ia mengerjap bingung. Mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. "Lo mau bunuh diri, hah!?" Sentakan pemuda itu membuat dia sadar, ia gagal. Gagal untuk mengakhiri penderitaannya malam ini. Menyadari hal itu membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata. Entah ia harus bersyukur atau justru menyalahkan pemuda yang saat ini berjongkok di hadapannya. Pemuda yang membuat percobaan bunuh dirinya malam ini gagal total. Jadi ia masih harus melanjutkan hidupnya yang menyedihkan ini?
You may also like
Slide 1 of 7
C cover
BUNGA KEMBALI cover
ice bear kesayangan  cover
HATRED [On Going] cover
ALZEA (TERBIT)  cover
When Spring Find Us cover
bisikan cover

C

27 parts Complete

"Drama banget hidup gue. Bahkan sinetron azab pun tidak semenyedihkan ini, sial." Gadis itu menunduk, melihat ke bawah dengan tatapan kalut. Kemudian ia menatap ke atas langit, hujan, tak ada bintang. Hanya ada langit gelap yang sesekali menjadi begitu terang karena kilatan petir. "Mak, kenapa nggak ajak Clara sekalian, sih?" lirih gadis itu membiarkan air hujan menerpa wajahnya yang penuh luka lebam. Bahkan tetesan air di tangannya berubah menjadi kemerahan, bercampur dengan darah. Ia tak menangis, lebih tepatnya sudah lama ia tidak bisa menangis. Sebelum memutuskan keluar di tengah hujan lebat, ia menikmati kesendirian yang menyakitkan di emperan ruko tak jauh dari jembatan ini. Sendiri yang begitu sakit karena dadanya yang sesak dan tangannya yang tak berhenti mengeluarkan darah yang bersumber dari sayatan yang ia buat sendiri. Ia kembali menundukkan kepala. Memejamkan mata erat, membiarkan rasa sakit fisik dan mentalnya bersatu dengan gumuruh suara petir. Mungkin, ini terkahir kalinya ia menikmati rasa sakit itu. Karena ia memilih untuk, menyerah. "Lo gila?!" Gadis itu membuka kembali matanya, tangannya semakin terasa perih karena terbentur aspal jembatan. Tak lain karena dorongan pemuda yang saat ini menatap tajam ke arahnya. Ia mengerjap bingung. Mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. "Lo mau bunuh diri, hah!?" Sentakan pemuda itu membuat dia sadar, ia gagal. Gagal untuk mengakhiri penderitaannya malam ini. Menyadari hal itu membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata. Entah ia harus bersyukur atau justru menyalahkan pemuda yang saat ini berjongkok di hadapannya. Pemuda yang membuat percobaan bunuh dirinya malam ini gagal total. Jadi ia masih harus melanjutkan hidupnya yang menyedihkan ini?