MAWAR
  • WpView
    Reads 57,075
  • WpVote
    Votes 1,965
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Dec 8, 2020
WpInfo
Fiction
Horror
Aku melihat mereka. Aku mendengar suara-suara itu. Aku mendengar alunan dari piano ditengah malam. Aku bisa melihat dari balik tembok. Aku tau dan hanya aku yang tau. Bau amis serta busuk terus saja mengusik hidungku, bau itu selau hadir di setiap malam ku. Mengganggu ku dalam kesunyian malam. Di kesendirian ini,ingin ku tuliskan secarik cerita ku bersama dia. Cerita tentang dia,wanita berbaju putih panjang ke kuning-kuningan seperti baju yang kotor dan lama tak di cuci. Aku tak tahu siapa dia. Dia yang selalu hadir di malam ku. Siapakah dia? Dari manakah dia? Mengapa dia hadir dihidupku? Lalu,apa yang dia cari disini? Entahlah... dia selalu saja hadir dengan bau amis nya. Tapi, aku akan coba untuk berkomunikasi dengan dia. Si wanita berwajah pucat.
All Rights Reserved
#515
mistis
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • "Bisikan Senior di Lorong Sunyi"
  • RATS!!!
  • [Horror] Diary - TAMAT
  • MISTIS
  • Aleysia Heaven [Complete]
  • Larasati- Napas Dari Masa Lalu
  • bisikan
  • Tanya Hati (Selesai)
  • KUTUKAN KEDOK PANJI [Complete]
  • Dalam Bayangan Ketakutan: Kumpulan Kisah

Namaku Amira, tapi aku lebih suka dipanggil Mira. Aku baru saja menginjakkan kaki sebagai mahasiswa baru di sebuah fakultas yang terkenal-atau lebih tepatnya, ditakuti-karena senioritasnya yang begitu kuat dan tak kenal ampun. Aku pikir setelah melewati masa PKKMB yang melelahkan itu, hidupku akan mulai berjalan normal, seperti yang kudengar dari cerita teman-teman. Tapi aku salah. Sangat salah. Keesokan harinya, saat pelajaran baru saja selesai, kami dipanggil oleh para senior. Pertemuan pertama berlangsung di dekat kolam perpustakaan yang rindang, tempat yang seharusnya menenangkan, tapi malah membuat dada ini berdebar tak karuan. Suasana terasa tenang, tapi mataku menangkap ada sesuatu yang tak biasa-sebuah bayang gelap yang mengintip di balik senyum mereka. Hari-hari berlalu, dan tempat pertemuan kami bergeser ke lorong yang sunyi dan gelap. Lorong itu seperti ruang antara dunia nyata dan mimpi buruk. Bau lembap yang tajam menusuk hidung, nyamuk beterbangan seperti bayangan yang tak pernah lelah mengawasi, dan lampu remang yang membuat setiap bayangan jadi dua kali lebih menyeramkan. Setiap kali kami dikumpulkan di situ, aku merasa seolah-olah ada mata yang mengintai dari kegelapan, membidik dan menilai. Bisikan-bisikan samar para senior, tatapan dingin yang menusuk tulang, membuatku bertanya dalam hati: apakah ini benar-benar untuk melatih mental, atau sesuatu yang jauh lebih gelap? Aku, yang tubuhnya lemah dan sering sakit, merasa terjebak di tengah tekanan yang menyesakkan. Di antara teman-temanku-Ani yang pendiam tapi kuat, Aini yang selalu cemas, Olifia yang berusaha tegar, dan Ratih yang tak pernah berhenti berharap-kami saling menggenggam tangan dan hati, mencoba menguatkan satu sama lain. "Tapi aku tahu, bisakah kami bertahan?" Bisakah kami tetap berdiri tegak saat bayang-bayang senior terus membayangi dan bisikan itu berubah menjadi ancaman? Atau akan kah kisah kami berakhir di lorong sunyi itu, di mana keberanian diuji dan ketakutan menjadi penguasa?

More details
WpActionLinkContent Guidelines