Ini versi final yang paling seimbang: tetap dekat dengan naskah asli, tapi lebih natural, melokal, dan terasa seperti pembuka novel Indonesia.
---
Pas pertama kali Palma masuk, dia langsung tahu.
This is it.
Hangat. Sempit. Pas.
Rasanya seperti pulang ke tempat yang memang seharusnya. Tidak perlu disangkal. Tidak perlu dijelaskan. Di situ Palma sadar, ini rumah paling jujur untuk dirinya.
**Doyan Cewek, I Am A Boy** bukan cerita tentang cowok sok playboy yang sibuk cari perhatian atau validasi. Ini cerita tentang Palma, seorang pilot yang memang suka perempuan. Sesederhana itu. Bukan buat pamer, bukan buat pencitraan, tapi karena hidupnya memang selalu berjalan dekat dengan mereka.
Dengan semua kekacauan yang ikut datang bersamanya.
Bagi Palma, menyukai perempuan hampir selalu sepaket dengan cemburu. Banyak malah. Bukan cuma dari dirinya sendiri, tapi juga dari perempuan-perempuan yang benar-benar peduli. Ada yang cemburunya halus. Ada yang diam-diam. Ada juga yang meledak tanpa perlu banyak drama.
Semuanya meninggalkan jejak.
Dan Palma tidak pernah benar-benar lupa.
Di hidupnya, ada tawa, ada patah hati, ada momen ketika dia merasa agak tersesat, lalu memilih menertawakan dirinya sendiri. Komedi muncul bukan karena dia ingin lucu, tapi karena kadang cuma itu satu-satunya cara untuk tetap waras.
Dengan segala dosa dan kelemahan manusiawi yang dia sadari betul di hadapan Tuhan, Palma tetap diberi ruang untuk menikmati perjalanan ini.
Selama besok masih datang, dia memilih menyambut setiap kejutan dengan senyum. Karena baginya, hidup terasa lebih baik ketika ada perempuan-perempuan yang berjalan bersamanya. Tidak selalu untuk tinggal. Kadang mereka hanya singgah, mengajarkan sesuatu, lalu pergi.
Palma tersenyum tipis.
Sedikit nakal.
Senyum laki-laki yang tahu hidup ini berantakan, dan entah bagaimana, dia baik-baik saja dengan itu.
All Rights Reserved