Story cover for The Siblings by cloudieous
The Siblings
  • WpView
    LECTURAS 6,888
  • WpVote
    Votos 887
  • WpPart
    Partes 16
  • WpView
    LECTURAS 6,888
  • WpVote
    Votos 887
  • WpPart
    Partes 16
Continúa, Has publicado abr 02, 2018
" Heh jangan berantem mulu! Ayo serius dulu sebentar. " ㅡ Junior Gilang Handoko 

" Yaelah lembek amat, sini gue aja! " ㅡ Jessica Citra Saputri

" Kak, kak, bentar dulu dong. Lagi nanggung ini war-nya. " ㅡ Domiko Ethan Saputra


Sudah 1 tahun terakhir ini Junior membiasakan diri tinggal dengan keluarga barunya. Junior yang terbiasa sebagai anak tunggal selama 18 tahun terakhir, kini mau tak mau harus menjadi kakak bagi kedua adiknya. Jessica dan Domiko, yang usianya tidak terpaut jauh dengannya.  

Kisah keseharian 3 bersaudara yang dikemas rapih dengan berbagai macam konflik remaja siap menghibur kalian semua.


-----------------------

Highest rank:
#1 jinjido
Todos los derechos reservados
Regístrate para añadir The Siblings a tu biblioteca y recibir actualizaciones
O
#701got7
Pautas de Contenido
Quizás también te guste
Quizás también te guste
Slide 1 of 10
WHY DOES MY BROTHER HATE ME?  [REV] √ cover
I'M LISA  cover
[4] Kak Doyoung cover
Butiran Dandelion cover
With Seven Handsome Brother | jisoo-bts cover
My parents from the star GEN II (BUKAN JENLISA) cover
DORM - 1THE9 [COMPLETE] cover
COLORS [SELESAI] cover
CRYSTAL ✓ [ KSJ X KJS] cover
my Hero, may be! ||  ᴶᵃᵉᴳⁱ [END] cover

WHY DOES MY BROTHER HATE ME? [REV] √

46 partes Concluida Contenido adulto

⚠️DALAM TAHAP REVISI ⚠️ [SUDAH TAMAT] FOLLOW TO READ READER!!! Sejak kepergian kedua orang tuanya dalam sebuah kecelakaan tragis, kehidupan seorang gadis muda berubah menjadi mimpi buruk. Ia tinggal bersama ketujuh kakaknya-orang-orang yang seharusnya menjadi pelindung dan penghibur, namun justru menjadikannya kambing hitam atas kehilangan mereka. Tanpa bukti dan tanpa alasan yang masuk akal, ketujuh kakaknya menuduhnya sebagai penyebab kematian orang tua mereka. Hati yang dulu penuh kasih berubah menjadi bara amarah yang terus membakar, menciptakan jurang dalam keluarga mereka. Gadis itu hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah yang tak pernah ia pahami, terpenjara oleh luka yang ditinggalkan oleh keluarga sendiri. "Apa salah ku?" ucapnya dengan suara lirih, tak mengerti mengapa ia harus menanggung semua ini. "Oppa, maafkan aku... hiks." "Arghhh! Jangan siksa aku lagi!" teriaknya dalam ketakutan, tubuhnya gemetar setiap kali langkah kaki para kakaknya mendekat. "Oppa... tolong aku... bantu aku... hiks..." "Eomma... Appa... aku rindu... bawa aku pergi... hiks..." Hanya rasa rindu yang menjadi temannya setiap malam. Rindu akan pelukan hangat sang ibu, dan suara tenang sang ayah. Di tengah gelapnya kebencian yang terus membayangi, apakah masih ada secercah harapan untuk gadis kecil itu menemukan cahaya dan kasih yang hilang?