"Mengapa orang-orang memandangku dengan tatapan aneh setelah kembaranku meninggal?" Itu pertanyaan terlampir di benak Rafael, seorang anak 12 tahun yang menyadari atmosfer sekelilingnya berubah mencekam setelah dirinya bangun dari koma. Mata-mata memandangnya bak ingin berteriak: "Kau iri dengannya makanya kau melenyapkannya!" Bahkan kedua orang tuanya pun memandangnya dengan kecurigaan yang sama hingga psikolog menjadi satu-satunya tempat mereka berpasrah akan kewarasan Rafael yang mereka yakini telah di ambang batas. Dunia anak itu benar-benar terjungkir balik, tak ada memori menyenangkan di tahun-tahun itu. Tempat baru yang orang tuanya yakini akan jadi tempat penyembuhannya malah menambahkan luka-luka baru. - - - - - - - - - - - - - Trigger Warnings: • Bullying (perundungan) • Psychological distress (tekanan psikologis) • Distorted thoughts (pikiran menyimpang) • Physical violence (kekerasan fisik) Rate: 16+ Note: jika ada kesamaan latar belakang, tempat, nama tokoh atau waktu, itu murni ketidaksengajaan. Cerita ini hanya fiktif belaka dan murni pikiran dari penulis. Mengandung beberapa adegan kasar dan sensitif dimohon untuk bijak dalam membaca. Dilarang keras untuk plagiat sekecil apapun itu.
More details