Kepercayaan? Itulah hal yang saat ini sedang dipertanyakan.
Dimana sesuatu yang awalnya terasa sangat berharga menjadi terasa sia sia. Terus berlari tanpa arah tujuan dan berbaring lemah menjemput masa sulit karena kehilangan.
Kesalahan karena terlalu banyak menaruh harapan atas semuanya tanpa mempersiapkan untuk menyambut kepergian membuatnya menjadikan pilihan antara merelakan atau mempertahankan.
Namanya rain, tapi kehidupannya bisa dibilang tak seindah namanya. Bergulat melewati krikil hidup karena luka masa lalu menjadikannya seorang gadis pluviophobia atau seorang pembenci hujan.
Rasa sakit kehilangan orang yang paling disayang yang direnggut oleh ahabat nya sendiri. Membuat gadis itu mengubah jati diri dan namanya. Memiliki kepribadian introfer dan cenderung pendiam juga membuatnya menjadi sasaran bullying teman temannya.
Setelah hujan pasti ada pelangi, dan setelah kesakitan pasti ada kebahagiaan.
Rain, gadis sederhana yang tak lagi memimpikan pelanginya.
Hingga akhirnya waktu membawa gadis itu harus bertemu dengan dua orang cowok yang memiliki kepribadian berbeda dan berbanding terbalik.
Yang memintanya harus memilih antara seseorang yang sanggup berjalan disampingnya dan menggenggam tangannya. Atau, seseorang yang rela berjalan dibelakang nya dan siap memeluknya.
"Aku gak tau mengapa setiap kali aku melihat rintik hujan aku selalu teringat masa kecilku" -Claudya faily rainata
"Hati lo boleh patah, mata lo boleh basah. Tapi percayalah semua akan baik baik saja, lo gak sendiri gue disini dan siap ngelindungin lo" -Devan alvio dika
"Walau segetar apapun yang lo rasain, Lo gak boleh keliatan gugup. Tetap tenang, Jangan jadi cewek lemah, gue mau lo harus bisa jaga diri. Dan jangan nangis lagi karena gue benci semua itu" -Vhito eldian ragasta.
Happy reading:)
Tepat di depan mata. Raiya seakan membeku disana, matanya nggak terlepas dari mobil yang baru saja terlempar tepat di depannya. Entah kenapa keadaan seolah semakin mendramatisir, hujan turun dengan derasnya sore itu, memadamkan api yang berasal dari ledakan mobil di depannya. Suara sirine ambulans saling bersautan dengan suara sirine mobil polisi, keadaan semakin kacau. Beruntung, yah Raiya bersyukur seseorang yang berada di dalam mobil itu sudah diselamatkan sebelum mobil meledak. Dan seketika itu pula, tubuh Raiya langsung limbung terjatuh begitu saja, isakan tangisnya semakin jelas terdengar meski di bawah guyuran hujan. Satu patah kata pun nggak bisa terucap, ingin sekali dia menghampirinya yang sudah berada di mobil ambulans, tapi kakinya masih saja membeku di tempat. Hanya sesak yang terasa.
"Kak Chi-ko ...."
"Dia nggak akan kenapa-kenapa! Ayo Ray, gue anter pulang sekarang!" ajak paksa seseorang yang sudah berdiri sejak tadi di belakang Raiya, tapi Raiya hanya bergeming. Seseorang itu samasekali nggak menduga kalau hal semacam ini akan terjadi. Liontin yang ada di genggamannya seketika terlepas begitu melihat mobil lamborgini hitam yang sangat dia kenal terlempar begitu saja di depan Raiya. Dia dekap Raiya ke pelukannya, menatap nanar ke mobil yang sudah nggak berwujud itu. Hanya satu yang ada di pikirannya saat itu, penyesalan.
"Kak Chiko, itu Kak Chiko, nggak, nggak, itu bukan Kak Chiko, pasti itu bukan Kak Chiko, dia bukan Kak Chiko!"