Pidato Upacara

Pidato Upacara

  • WpView
    Reads 4,838
  • WpVote
    Votes 65
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Mar 7, 2020
WpInfo
Non-Fiction
Tidak semua orang percaya diri bernalar lepas di atas panggung, apalagi untuk berpidato. Demam panggung adalah salah satu musuh fasihnya lidah dan pikiran saat berpidato. Percaya diri dan yakin saat berbicara bisa mempengaruhi lawan bicara kita sehingga mereka percaya dengan apa yang kita omongkan. Meskipun yang kita omongkan itu adalah salah. Untuk menjadi orator yang ulung tidak hanya semata butuh percaya diri. Kita harus juga punya modal pengetahuan yang luas. pengetahuan yang luas itu perlu kita kreasikan kembali dengan gaya bahasa baru namun tetap mudah dipahami sesuai keadaan kekinian. berapi-api saat pidato, bagus. Tetapi tampa konsep dan tema yang menarik bisa dianggap basi oleh audiens. Dibutuhkan kreasi, comedy, dan gaya penyampaian tersendiri agar apa yang kita sampaikan tanpa bosan disimak oleh para pendengar. Dalam buku ini di konsep pidato jadi, siap dipraktekan, khusus untuk para guru yang selalu menjadikan pembina upacara jadi momok yang menakutkan nyali. yakni, bingung tema yang hendak disampaikan. Insya Allah buku mengakomodasi kegundahan para guru saat jadi pembina upacara bendera. wassalam
All Rights Reserved
#10
upacara
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tutorial Berpikir Benar untuk Pemula
  • 𝐎𝐀𝐒𝐈𝐒 𝐌𝐄𝐍𝐆𝐈𝐊𝐈𝐒?
  • BALADA KEHIDUPAN
  • Diantara Luka
  • MAHESWARI  (selesai)
  • Langit Semesta
  • Mike the President
  • SNIPER -Friend Or Enemy?-  [BTS - MONSTA X] [END] (Sudah Dibukukan)
  • KENLA
  • Ecosillia
  • JAM 3 SORE
  • Cerita-Cerita Dari Lembar Utang
  • MY CICI [END]
  • To Kill a Queen

Saat ada tsunami, kita nyari objek paling kuat untuk dipegangi. Karena kita berharap dengan memegangnya, kita bisa selamat. Saat berlayar di laut, melihat mercusuar adalah hal yang istimewa, karena dia penunjuk arah dan memberi isyarat bahwa kita sudah dekat dengan dermaga. Begitupun dalam berargumen, boleh saja kita ini awam, boleh saja kita ini bukan ahlinya, tapi kita wajib memegang referensi yang memiliki bukti valid terkait hal yang sedang dibahas, karena kita berharap adanya rasa aman setelah mengetahuinya. Kita juga bisa berargumen menggunakan referensi tersebut dengan baik tanpa emosi. Kenapa banyak orang yang tersasar di gurun lalu meninggal? Ya memang mereka kehausan dan kelaparan. Lalu apa alasan lainnya? Karena saat di gurun, mereka berpatokan pada gunung pasir tertinggi yang mereka lihat, kemudian mereka mencoba untuk menaikinya dengan harapan pandangan mereka jauh lebih luas dari sebelumnya. Tapi mereka tidak sadar bahwa sebelum sampai ke gunung pasir tertinggi itu, angin kencang telah menghembuskan pasirnya dan gunung yang dimaksudkan sudah tidak ada lagi, berpindah posisi ke tempat lain. Saat ia menuju ke gunung itu, angin berhembus kencang lagi, begitu seterusnya. Orang yang tidak bersumber pada referensi valid, ia seperti orang yang ada di gurun itu. Bedanya, orang di gurun mati fisiknya. Kalau dia, mati akalnya. Itulah gambaran yang bisa gw tulis untuk mengawali kata pengantar buku ini. Tanpa sumber referensi yang valid, kita akan terhembus kemanapun angin keributan itu berarah. Buku ini pastinya banyak kekurangan, karena ditulis oleh pemula. Karenanya, segala kritik dan saran yang membangun akan selalu ditunggu agar terpeliharanya ilmu pengetahuan yang bersih dan dapat diwariskan sebaik mungkin kepada generasi penerus bangsa (yang ga ada aplikasi tiktok di hapenya). Oh ya, gaya bahasa yang digunakan pada tiap bab akan berbeda, tergantung mood yang menyertai penulisnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines