The Shadow Of Devil

The Shadow Of Devil

  • WpView
    Reads 217
  • WpVote
    Votes 16
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jul 15, 2019
"Bagaimana hidupmu? Pasti menyenangkan ya menjadi dirimu, seekor burung yang bisa bebas terbang kemanapun kau mau, tanpa ada yang mengatur atau memperbudak dirimu." Ucapnya dengan sedikit senyum terpaksa. "Kau tau, jika di izinkan aku ingin menjadi seperti dirimu" lanjut nya lagi dengan air mata yang mulai menetes. "aku punya sayap yang membebaskanku, tak perlu berpikir, tak perlu bersedih dan berduka, tak harus menerima semua perlakuan kejam mereka, aku ingin pergi sejauh mungkin menggunakan sayapku. Dan Jika aku menjadi binatang mungkin aku tak akan terlahir buta." Akhirnya air mata nya tak bisa terbendung lagi dan tumpah begitu saja hingga isakan tangisnya pun terdengar cukup keras, beruntung ia berada di tengah hutan yang sunyi. Gagak itu dengan setia mendengar semua ceritanya dari awal sampai akhir, dan ia senantiasa menemani gadis itu dalam kesedihannya, gadis itu bernama Aleysha. Ia tidak memiki nama belakang karena ia hanya sebatang kara yang tak tau siapa orangtuanya, dan ia adalah seorang budak yang bekerja di rumah seseorang yang tidak kaya, namun sangat kejam terhadapnya.
All Rights Reserved
#803
iblis
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pangeran Kegelapan
  • ALIF CLASS TREASURER [COMPLETED]
  • Suck It and See (Complete)
  • Xaviera || On Going
  • Meraih Cinta Suamiku
  • I'll be Waiting for You
  • DIGNITY (Pembalasan Luka Putri Sang Jendral)
  • Alisa's Story
  • Air Mata Elara

Malam semakin larut, namun tidur menjadi hal yang mustahil bagi Mael. Setiap kali dia memejamkan mata, dunia di sekitarnya seakan berubah. Suara gemerisik dari sudut-sudut ruangan, desahan napas yang tidak berasal dari dirinya, dan bayangan-bayangan yang menari di balik tirai gelap kamarnya membuat dadanya terasa semakin sesak. Saat dia berbalik untuk kesekian kalinya di tempat tidur, suara itu kembali muncul-seperti bisikan yang tertiup dari balik dinding, rendah dan penuh kekuatan. "Mael... Kau tidak bisa lari..." Dia terlonjak bangun, matanya terbuka lebar, jantungnya berdetak keras. Ruangan itu sunyi. Terlalu sunyi. Dia duduk di tempat tidur, menarik napas dalam-dalam dan berusaha meredakan gemuruh di dadanya. Bisikan itu, suara yang sama dengan yang ia dengar di perpustakaan, menghantuinya lagi. Pikiran Mael kacau. Apakah ini nyata? Ataukah dia sudah kehilangan akal? Sejak mimpi itu, dunianya berubah menjadi labirin ketakutan yang tak bisa dia pahami. Mata Mael bergerak ke sudut kamar, ke arah bayangan yang terasa lebih pekat daripada biasanya. Di sana, samar-samar, dia melihat sesuatu. Sesosok tubuh samar yang menyatu dengan kegelapan. Tubuh itu bergerak perlahan, semakin dekat, seperti makhluk yang merayap dari kedalaman mimpi buruknya. "Siapa kau?" Mael berbisik, meskipun dia tahu tak ada jawaban.

More details
WpActionLinkContent Guidelines