Aku dan Dia

Aku dan Dia

  • WpView
    LECTURAS 46
  • WpVote
    Votos 2
  • WpPart
    Partes 1
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación lun, jun 8, 2020
Mungkin ia tak sehebat wanita lainnya, yang dengan berani menunjukkan pria idamannya pada orang lain. Ia tak sehebat wanita yang lainnya, yang dengan berani menunjukkan perasaannya pada sang penguasa hati. Ia terlalu takut untuk memulai itu, terkadang ia berpikir bahwa ia sudah salah melangkah. Namun ia coba untuk menepis pemikiran buruknya. Saat ia menatap mata sendunya, penyesalannya menguap begitu saja entah pergi kemana, rasa takutnya hilang begitu saja saat sang penguasa hati berada di sampingnya. Tetapi ia tak bisa harus selalu seperti ini, ia tak bisa melewati hari-harinya dengan ku lalui bersama rasa takut, bingung, apa lagi dengan rasa kecewa yang selalu menghampiri ku hampir setiap saat. Setiap hari aku selalu berusaha berpikir bahwa kejadian yang terjadi di hidupku sudah di gariskan Tuhan untukku, namun ku merenung di setiap malamku, apakah mungkin semua ini tak pernah akan terjadi jika aku tak bersama dengannya, jika aku tak mengenalnya, dan atau mungkin aku tak bertemu dengannya. Apakah semuanya akan baik-baik saja?.
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Tentang Kota Ini
  • She Pluviophile
  • Patah (Telah Terbit)
  • 𝓙𝓮𝓳𝓪𝓴 𝓚𝓮𝓷𝓪𝓷𝓰𝓪𝓷 𝓭𝓲 𝓤𝓳𝓾𝓷𝓰 𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪
  • Eimaikala
  • Karena Kamu Rumahnya
  • PROSA "Proyeksi Rasa" [END]
  • Arshaka Heizen Lergan
  • FEARLESS || JAYISA

Hari ini, Ayah membawa kami pergi dari Ibukota dan memilih kota Yogyakarta sebagai tempat singgah sementara; katanya. Tepatnya di Rumah Oma yang terdapat keluarga besar yang dari dulu tinggal di sana. Canggung, banyak berpikir buruk tentang mereka karena sikap yang diperlihatkan. Di Jakarta saja Aku dengan Ayah, Bunda dan ketiga Adikku saja tidak memiliki hubungan yang begitu dekat. Apalagi di sini? Semakin asing dan terasa diasingkan. Namun, sepertinya mata dan hatiku sedang tertutup rapat selama di kota ini. Aku menganggap Yogyakarta bukanlah tempatku. Aku tidak bisa ada di sana. Apa kalian juga berpikir seperti itu? Pasalnya, ada beberapa manusia yang kutemui di sini, salah satunya si manusia itu. Dan kembali ke hal utamanya, mata dan hatiku sedang tertutup kala itu. Semua akibat terlalu gelisah mengenai rumah besar Oma ini, tentang segala yang berada di dalamnya. [[Cerita ini sedikit mengulik tentang perasaan seorang remaja perempuan yang mendapat peran sebagai kakak pertama. Dunianya hanya penuh dengan dirinya sendiri; fotografi salah satu di dalamnya. Namun, selalu terbesit dalam hatinya untuk berbicara pada dunia. Ia ingin lebih dari ia yang sekarang, ia selalu merasa tak pernah menjadi seorang kakak, ia tak pernah merasa menjadi sesosok teman, ia hanya ingin seperti manusia lain yang terlihat biasa saja dengan manusia lainnya. Tentu ingin menjaga keluarganya, bukan dengan tetap bungkam. Ia ingin bersuara dengan berjuta makna katanya. Namun, apakah bisa? Rasanya tidak kalau ia masih membuka mata dan hatinya untuk dunia; terutama orang-orang yang ia temui di Yogyakarta.]] Update setiap JUMAT👀

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido