Story cover for Nadira by Renasya412
Nadira
  • WpView
    LECTURAS 332
  • WpVote
    Votos 28
  • WpPart
    Partes 5
  • WpView
    LECTURAS 332
  • WpVote
    Votos 28
  • WpPart
    Partes 5
Continúa, Has publicado abr 08, 2018
"Nadira gue kali ini beneran serius sama lo" Ntahlah aku merasa tidak peduli dengan ucapannya barusan. Aku hanya menatap lurus ke depan seolah tidak ada yang menggangguku. 

"Please Nad, gue nyesel udah buat kek begini sama lo.  Sekarang gue harus ngelakuin apa supaya lo bisa maafin gue Nad?" 

"Menurut lo gue harus ngapain?" Tanpa merubah ekspresi wajah datarku kepadanya. Dan aku benar-benar muak padanya sekarang. 

"Apa aja asalkan lo bisa ngemaafin gue Nad" Ucapnya dengan penuh harap yang terlihat jelas di matanya, sambil menghalangi jalanku. 

"Jauhin gue" 

....



*Note: PLAGIAT dilarang keras masuk ni lapak ! 🚫
Todos los derechos reservados
Regístrate para añadir Nadira a tu biblioteca y recibir actualizaciones
O
#13shcoollife
Pautas de Contenido
Quizás también te guste
Quizás también te guste
Slide 1 of 10
Tingkat Tiga cover
ALSTARAN [END] cover
Three Idiot Girls  ✔ cover
Strong Girl Michella (END)  cover
Bersamamu cover
INTERIM: Let Me See Your Smile cover
Friendzone cover
Kelas A [End] cover
VINDEYLI cover
Ar. cover

Tingkat Tiga

48 partes Concluida

"Kenapa ya mbak ada orang yang cakep banget gini di dunia?" jawabnya sembari menunjuk ke arahku. Mataku membulat. Bukan karena dia mengataiku sebagai perempuan yang cukup cantik, namun karena perubahan panggilan yang dia berikan padaku. "Mbak?" tanyaku memastikan. Alih-alih menggeleng atau mengelak, Rafka justru langsung mengangguk. "Iya. Mbak Caca." "Ngapain ikut panggil gue mbak?" "Biar lebih deket aja. Lo kan dipanggil mbak sama Keenan." "Ya dia kan adik gue." Balasku sengit. "Ya gue mau ikutan, Mbak. Kedengaran lebih gemes." Aku memutar bola mata jengah. "Gemes-gemes apaan. Lo mau jadi adik gue juga?" "Kalo jadi pasangan lo aja gimana?" "Kalo gitu jangan panggil mbak." Rafka menegakkan tubuhnya. "Lo serius?" "Soal apa?" "Lo mau jadi pacar gue." "Siapa yang bilang?" tanyaku berpura-pura bingung. "Tadi kak. Lo bilang gue jangan panggil lo 'mbak' kalo nggak mau dianggap jadi adik." "Artinya lo mau kan jadi pacar gue?" lanjutnya menuntut jawaban.