Nikah Tebusan [16+]

Nikah Tebusan [16+]

  • WpView
    Reads 5,919
  • WpVote
    Votes 1,193
  • WpPart
    Parts 16
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Sep 4, 2018
"Awal Cinta Terbentuk dari Sebuah Paksaan." ------- Nikah? Untuk sebuah tebusan?! Kata-kata tersebut, selalu membuat gadis cantik itu menjadi tak habis pikir. "Bagaimana bisa, pernikahan yang seharusnya dilandasi rasa cinta satu sama lain. Kini, dilandasi dengan cara paksaan?!" - Kyla Ayyara Ravanie Barki - "Kau, tidak bisa lari dariku! Kau gadis yang akan menebus semua kesalahan dari masa lalu seseorang yang sangat aku sayangi!" - Fathan Bhanu Aggrastira - Penasaran? Klik >>> Baca di atas! Temukan cerita romantis dari kisah seorang gadis dengan pria penuh kuasa ini. Dengan dibalut luka, kepalsuan, namun... Berakhir dengan rasa cinta yang tumbuh diantara keduanya. [#3 - Romantisme > 28.08.18] ©Copyright2018
All Rights Reserved
#271
married
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Don't call it love!
  • When December Comes [End]
  • Married For Stimulate
  • AREEN [the Queen of Azriel]
  • EMERAL (TELAH TERBIT)
  • Kumpulan Novelet Romansa (one shoot)
  • TANTAN ; with you [ ON GOING ]
  • Boyfriend With Benefits
  • Cold Produser Love (COMPLETE)
  • May I Love You?

Semesta rasanya tidak berpihak pada Cyntia. Tidak hanya perusahaannya yang sedang berada dibawah roda kehidupan, tetapi neneknya sakit dan terus memaksanya menikah. Orang yang ia cintai dan mencintainya pun hilang tak ada kabar. Tak ada pertolongan rasanya. Pada akhirnya pilihan terburuk muncul. Ah, mungkin tak bisa disebut pilihan. Ia harus melakukan itu dengan terpaksa. Pria yang melukiskan kehidupan kelamnya pun muncul. Konyol rasanya saat pria itu mengajaknya menikah. *** Aku tak tahu apa itu cinta. Bahkan, saat ini bagiku itu satu kata yang abstrak luar biasa. Baginya rasa yang terasa itu cinta, tetapi mengapa rasanya merusak jiwa raga. Bagiku itu bukan cinta, melainkan suatu rasa yang amat hampa. Akhirnya satu kata menjadi beda makna. "Bukankah kau sangat membenciku?" Tanyaku. Ia diam, tanpa menatap mataku. Secara tak sadar aku tersenyum sinis padanya dan aku berusaha menahan rasa kesalku. "Apakah melemparkan susu basi ke wajahku adalah bentuk rasa suka?" Aku mengungkit masa lalu. Matanya pun mulai menatap mataku. Aku takut dengan wajah itu. Di bawah meja tersembunyi tangan gemetarku. Mataku berpura-pura tegar saat bertemu matanya itu. Aku berusaha bicara meski lidahku terasa kelu. Aku berusaha berdiri tegak meski kakiku tak berdaya. Waktunya pergi dari hadapannya. Aku akan katakan terakhir kalinya. "Jangan sebut itu cinta!" "Aku melamarmu bukan karena cinta. Bukankah, seharusnya kau yang memohon padaku agar kita bisa memanfaatkan satu sama lain?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines