Kota Tiada

Kota Tiada

  • WpView
    Reads 217
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadMatureOngoing11m
WpMetadataNoticeLast published Mon, Apr 16, 2018
Saat itu aku sepuluh tahun lebih muda dari sekarang. Tidak ada yang kutahu di luar menyetor hafalan baru, mengulang hafalan lama, dan masuk masjid sepuluh menit sebelum adzan, selain melakukan apa saja untuk teman-temanku. Termasuk berkelahi dengan geng lain, kabur dari asrama dan main playstation, mendengar Sheila on 7 dan saluran radio misteri, menonton film-film Van Damne dan Jackie Chan, dan membaca komik-komik detektif dan kungfu sewaan. Usiaku 18 tahun, dan hanya itu yang kutahu sampai seseorang memberiku tujuan yang lebih jelas daripada menjadi hafiz 30 juz, atau berkelahi dengan siapapun yang berani mengolok-olok kami: geng Mujaffaf Utara, dari Zawiyah Mim. Aku menghormati orang itu. Seperti setiap laki-laki menghormati ikatan pertemanannya. Tidak peduli apakah di antara teman-teman itu mempunyai masa lalu seperti tempat sampah dapur, atau tempat penampungan tahi sekalipun. Inilah cara yang tersisa dan terakhirku untuk menghormati semua yang kami miliki. Menuliskan kenangan-kenangan untuk menjahit kembali sepasang luka panjang di sekujur lengannya. Di sekujur persahabatan kami. Di dalam dadaku sendiri. "Jika kau tidak suka ceritaku," seperti orang itu tulis di balik sampul buku catatannya. "Akan kukatakan padamu satu hal: pergi dan makanlah kotoranmu sendiri!"
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • LET ME HATE YOU
  • Undiscovered Truth (Kuroko no Basuke Fanfiction)
  • Word Of Action!✔️
  • Chupi Mohabbat (ON HOLD)
  • Tu woh chaand
  • Luminaria
  • SHAREEF 2023

A marriage neither wanted. A hatred neither understands. Two strangers tied by a past that stains everything between them. He never wanted a wife. Especially not her. Cold, distant, and poisoned by assumptions, Amaan enters the forced marriage with one intention- to keep his distance and keep his resentment alive. Asmaira enters with something far heavier- guilt. Not to protect him. Not to save him. But because she knows the truth of what happened... and she cannot bear to confess it. They have never met. But the moment they do, the air turns sharp- full of tension, unspoken accusations, and the kind of hate that feels too much like longing. He despises her for a sin she never committed. She punishes herself for a sin she never confessed. And marriage turns into a battleground where silence is a weapon... and closeness is a threat. In this house, love is impossible. Trust is deadly. But hatred? Hatred is the only thing keeping them alive.

More details
WpActionLinkContent Guidelines