Nathan dan Nadhira

Nathan dan Nadhira

  • WpView
    Reads 2,401
  • WpVote
    Votes 70
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Apr 30, 2018
WpInfo
Fiction
Romance
(FOLLOW DAHULU SEBELUM MEMBACA CERITA INI) "Lo yang jadi Putri Saljunya dan gue yang jadi pangeran nya" ujar Nathan dengan nada datar dan menatap Nadhira dari kejauhan. "agar gue bisa mencuri first kiss dari lo" sambungnya. Mata Nadhira langsung membulat sempurna mendengar argumen dari Nathan, ia berdiri lalu memukul meja dengan kuar hingga menggema di ruang OSIS. "Lo sudah gila?" gertak Nadhira dengan suara lantang nya itu membuat beberapa anggota OSIS meneguk ludah berat. "Nggak, gue nggak gila " kata Mathan masih dengan nada datar. "bagaimana? lo mau gue curi first kiss lo?" Dengan mentah-mentah Nadhira menolak argumen dari Nathan. "OGAH! LO PIKIR GUE BAKALAN MAU?" Nathan tidak merespons perkataan Nadhira. "Jangan berharap lo bakal dapat ciuman dari gue!"
All Rights Reserved
#7
tennlit
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jomblo di eskul Pramuka
  • Only You
  • Aranathan
  • Noktah
  • Twins; Jevan-Nevan [TERBIT]
  • Dari Nadya Menjadi Salsa Bersama Aidyn
  • Serenada
  • Untuk Arjuna[✓]
  • Waiting For You [TAMAT]
  • Milik Nathan

"Mulai hari ini kamu ibu masukkan ke dalam eskul pramuka, bahagialah!" Entah kenapa di akhir kalimat, pengucapan ibu Fatimah begitu menekan ke dalam jantungku. "Tung--Tunggu dulu bu. Saya belum pernah menyetujuinya" "Apakah itu harus?" Nada dingin dan sentuhan tangan beliau langsung menjalar ke urat nadiku "I--itu tergantung dengan situasi dan persepsi dari--" "Mana jawabanmu?" "Baik bu" Sial... Kenapa mulutku tak memikirkan nasibku yang akan datang. "Yaah, ibu tau kamu malu kok" (Bu! Hentikan omong kosong anda) Begitulah kalau aku punya nyali untuk mengucapkannya. "Nandi, mulai hari ini, dia bergabung dengan eskul pramuka" Ibu Fatimah mendekati seorang wanita yang dari tadi memperhatikan kami. Kalau aku bilang, lebih seperti seorang anak kecil sedang memperhatikan anak kecil lainnya yang sedang dipaksa oleh orang yang lebih tua. Entah apa yang mereka bisikkan di sana, tapi aku yakin, pasti itu bersangkutan dengan privasi yang kujaga lebih dari apapun. "Dimas, Nandi juga setuju dengan ini. Jadi kau sepulang sekolah bisa langsung ke ruang pramuka nanti" Lalu beliau tersenyum. Entah kenapa senyuman tersebut mempunyai maksud yang berbeda dari apa yang dia katakan sebelumnya "Jangan kabur ya..."

More details
WpActionLinkContent Guidelines