Siang dan malam memiliki simbol keindahannya masing-masing. Roda waktu ini cepat sekali berputar, tapi dunia tetap menempatkannya pada ambang siang dan malam. Seolah mencela dirinya yang hanya bisa bertumpu kaki tanpa melangkah ke kanan atau kiri, bahkan maju ke depan sekali pun. Seakan mencemoohnya yang senantiasa menutup mata walaupun netranya bergulir menyaksikan setiap adegan. Harus berapa kali Redian merutuki dirinya sendiri yang tak mampu melakukan apa pun untuk adik-adiknya? Hanya berdiam diri layaknya seorang pecundang yang tak akan pernah bisa menempuh medan perang. Hanya bisa memandang kedua adik tersayangnya berjuang masing-masing pada jalan mereka sendiri. Benar dirinya tidak berguna kan?
More details