Aku Padamu
  • WpView
    Reads 322
  • WpVote
    Votes 19
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, May 22, 2018
Hidup itu tidaklah sederhana, demikian juga dengan cinta. Selalu ada saja sandungan yang siap menhentikan langkah, tdk peduli sudah seberapa jauh kita berjalan. Namun hidup akan menjadi sempurna, ketika ada seseorang yang selalu menyediakan pundaknya untuk bersandar saat kita lelah. Jarinya selalu sedia menghapus air mata yang berkaca kaca. Seperti kamu yang selalu menggandeng tanganku untuk meyakinkanku bahwa aku tidak sendirian, selalu ada dirimu di sisiku. Karenamu, hidupku menjadi indah. Karenamu rindu ini pun tercipta. Aku padamu, kamu padaku untuk satu cinta
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cinta dan Takdir Rania [End]
  • Shadow That Fades
  • Air Mata Cinta
  • SELEPAS KAU PERGI (END)
  • Waktu dan Cinta
  • Aku Kamu Dan Dia
  • Anugerah Terindah
  • JATUH CINTA SETELAH MENIKAH
  • You're Here, But Not For Me
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)

❝Keputusan berat yang harus aku ambil, demi menjagaku juga menjagamu adalah menjauhimu. Bukan karena benci, tapi karena aku mencintaimu. Semata agar kau dan aku tidak terjerumus dalam syahwat yang hina.❞ Begitulah kutipan tulisan yang aku tulis dan kutujukan untuk seseorang, cinta pertamaku. Assalamu'alaikum ... aku Rania Andinadya. Jika kamu bertanya kisah ini mengisahkan tentang apa ... ini tentang perjalananku dalam menemukan hingga harus belajar mengikhlaskan cinta pertamaku. Aku, begitu mencintai dia. Namun anehnya, aku sama sekali tidak pernah berani mengungkapkan perasaanku padanya. Sampai suatu masa, ketika cintaku mulai terbalaskan, hidayah-Nya perlahan-lahan mengetuk pintu hatiku. Aku pun menyadari, aku dan dia tidak seharusnya sering berinteraksi, demi menghindari syahwat yang hina. Meski telah berhijrah, cintaku kepadanya masih sama. Dalam diam, aku tetap mencintai dan mendo'akan kebaikan untuknya. Tapi, siapa sangka takdir malah berkata lain. Setelah menjauhinya sebab cinta, ia telah menemukan pujaan hatinya. Lantas aku berusaha mengikhlaskan, meskipun ikhlas adalah suatu hal yang teramat pelik. Dan satu pertanyaan terus mengusik pikiranku ... mampukah aku mengikhlaskannya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines