langkah Cahya
Cinta pertama datang tanpa aba-aba-lewat pandangan singkat di hari MPLS, pada sosok kakak kelas yang tampak sempurna di mata Cahya. Tapi kekaguman itu harus ia kubur diam-diam, saat kenyataan berkata lain. Luka tak berhenti di sana, sebab hati yang baru pun kembali terluka.
Di tengah rasa letih dan kecewa, Cahya memilih diam. Fokus pada mimpi, bukan rasa. Hingga semesta kembali mengetuk-lewat sepasang mata baru, dari siswa pindahan yang tak terduga. Dan di situlah, Cahya kembali belajar: bahwa mengagumi tak harus memiliki, tapi bisa menjadi cara paling tulus untuk mencintai dalam diam.