Susah Senang Bersama

Susah Senang Bersama

  • WpView
    Reads 13
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Apr 14, 2018
Tahun ini aku dan pasanganku berniat untuk menikah. Aku mulai giat untuk menabung dan begitupun pasanganku. Sampai dengan hari ini kami berdua dilimpahkan banyak rejeki. Dan aku pun tak lupa untuk bersyukur. Namun 11 April tepat pukul 12.00, hp ku berdering. Ku dengar ada suara dari Tunanganku yang berucap " Maafkan aku ya yank, aku barusan kecelakaan menabrak mobil lain. " Sedih kaget dan lemes, aku tak menyangka akan ada musibah itu menimpa kami. Bukan masalah mobilnya, memang itu mobil baru yang ia beli untuk kami nanti berumah tangga. Tapi aku sadar, dan bersyukur diberi musibah. Karena disaat sedang masa masa seperti ini aku sedang di uji oleh Tuhan. Aku yakin , aku bisa melewati hal ini. Di sisi lain pula, aku akan tetap menemani dan menyayangi pasanganku. Aku akan selalu bersamamu disaat susah ataupun senang.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • TEOLOGI CINTA
  • Simfoni Takdir ✔
  • Imamku Badboy (SUDAH TERBIT) ✔
  • Missed You
  • Embun Pagi
  • Cinta Sabilla | √
  • Imamku (SELESAI)
  • "PERJUANGAN CINTA BEDA AGAMA"
  • Ikhtiar Cinta Bersamamu [END/SUDAH TERBIT]
  • CEO itu Mantanku

Memilih jodoh tak seperti melempar dadu. Aku sudah super hati-hati, ketika akan memutuskan Ghani menjadi suamiku. Tetapi Tuhan punya rencana lain. Ketika Ghani dalam keadaan tak berdaya, koma dan amnesia. Aku jadi berpikir ulang. Semakin tak tega untuk mencampakkan begitu saja. Aku tak tahu, apa ini cinta atau bukan. Yang jelas rasa itu hadir mengikat hatiku. Ghani bagiku saat ini tak lagi seperti pakaian. Jika tak cocok, aku mengganti yang lain.Bahkan, hari demi hari aku tak ingin jauh darinya. Aku tak ingin sewaktu-waktu jika ia dipanggil-Nya, aku luput dari sisinya. Terkadang aku tak mengerti banyak hal tentang diriku sendiri saat ini. Sejak Ghani bernasib naas, aku merasa berdosa besar dan sulit untuk memaafkan diriku atas niat burukku dulu pernah menuntutnya bercerai. Kini, justru sebaliknya, aku seperti telah jatuh cinta untuk kedua kalinya, tanpa syarat, sampai tertawan, hingga berserah tanpa bisa melawan. Aku mengizinkan hatiku mengalir bersama keterbatasannya, tanpa alasan jelas, bahkan cenderung absurd. Ada rasa kasihan dan iba yang luar biasa. Seperti gaya percintaan kakek nenek yang telah menua dan renta. Terkadang kuberpikir apakah hubungan suami istri seperti ini yang ideal? Tak mudah lekang oleh pancaroba. Dibanding yang didasari hitungan untung-rugi dengan mengatasnamakan cinta? Yang tak kumengerti sampai saat ini, mengapa aku semakin takut kehilangan Ghani? Sampai aku tak mampu lagi mengindetifikasi perasaanku ke Ghani, apakah aku mencintai atau mengasihani?

More details
WpActionLinkContent Guidelines