18+, for adult reader only
-Dia telah memasukiku, menyentuh dan menghentak semua titik kesenanganku. Tapi aku tahu, dia tak pernah berusaha menyentuh hatiku, tak peduli dengan kebahagiaanku. Baginya semua ini hanya fisik, tanpa emosi.-
Eleanor Wijaya
-Aku telah melihat setiap lekuk tubuhnya, sidik jariku telah tersebar di setiap inci kulitnya, hingga bagian yang paling rahasja. Tapi aku tak pernah tahu apa mimpinya, ketakutannya, harapannya. Aku hanya mengenali tubuhnya, bukan jiwanya.-
Damien Blanco Sastranegara
-Dia membuatku lupa bernapas dari pertemuan pertama. Seluruh sel tubuhku ingin melebur bersama dirinya. Menarikku agar aku menjelajah pada tiap lapis pelindung hatinya. Membiarkanku menyelam hingga aku bisa menyentuh bagian yang tak pernah dijamah para pria. Jiwanya.-
Aidan Nala Aswin
Mili sangat membenci kondisi ini. Di usianya yang baru 22 tahun, dia dikejar-kejar oleh Mamanya yang ingin menjodohkannya karena Mili harus menikah sebelum usianya 24 tahun. Tentu saja, Mili langsung menolak mentah-mentah perjodohan itu. Dia merasa bisa mencari jodohnya sendiri.
Gadis itu pun merantau ke Jakarta. Berniat mencari jodoh yang sayangnya ternyata sulit sekali. Padahal, Mili tidak meminta lelaki yang macam-macam. Cukup lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Siapa pun, akan Mili terima.
Namun, tidak untuk Arsenal, anak dari kerabat jauh Mamanya yang Mili pernah dititipkan di sana bahkan membantu Mili mencari pekerjaan.
Kenapa?
Jawabannya karena Mili takut dengan Arsenal! Lelaki itu tatapannya sangat tajam dan mengintimidasi, membuat Mili bahkan tidak sanggup menatapnya lama-lama.
[Update Selasa dan Minggu]