Better Without You

Better Without You

  • WpView
    Reads 63
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Apr 22, 2018
Cahaya rembulan menerangi kegelapan di ujung hatiku. Rona sang bintang menghanyutkan pikiranku. Angin malam yang berhembus seolah menyampaikan perasaan yang larut dalam gundah. Pesona malam memberi isyarat tentang masa itu. Sekitar 5 tahun yang lalu disaat genap usiaku 10 tahun. Masih terngiang seragam putih merah ku kala itu. Sunyinya malam berpadu dengan rintikan hujan semakin menarikku untuk mengenang cerita itu kembali. Hingga suara jangkrik membangunkanku. Mengisyaratkan untuk melupakan semua yang terjadi. This is my story, all about my memories.
All Rights Reserved
#97
triangle
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kuas,Cat dan Cinta
  • Everything Happens for a Reason
  • Mencintaimu Dari Ujung Senja
  • Memories in Moon
  • Cerita Tentang Kita
  • As Time Allows
  • Everything Not Same (Selesai) ✔✔
  • TCP [2] : "Reflection"
  • Revenant: Kuntilanak Penyelamat

Aku bertemu degannya lagi. Ini sudah lama sekali, cukup lama untuk membuatku canggung untuk menyapanya. Sepuluh tahun yang lalu, aku gadis berkucir dua, dia anak yang berkaca mata. Sepuluh tahun yang lalu, aku adalah orang yang tidak memperhatikan wajahnya dengan teliti dan sekarang aku menyadari bahwa dia adalah pemuda yang tampan dengan mata yang menarik di balik kaca matanya itu. "Hallo !!" sapaku padanya. Dia menatapku dengan kening berkerut. Aku menjadi lebih canggung lagi karena dia tidak mengenaliku. Aku bukan gadis menarik, aku juga bukan gadis yang pandai mengawali pembicaraan ataupun mengakhirinya. Kalaupun dia mengenali aku, mungkin dia akan pura-pura lupa. "Hallo !" balasnya kemudian dengan senyum yang canggung. "Apa kau masih mengingatku ?" tanyaku dengan tatapan menyelidik ke arahnya. Hujan sore ini menahan dia, aku dan beberapa orang lainnya di depan toko yang tidak kutemukan papan namanya. Aku pindah dari kota ini ke luar negeri sepuluh tahun yang lalu tapi sekarang aku kembali dan temanku tidak mengenaliku lagi. "Kau siapa ?" dia balik bertanya dengan nada yang canggung ke arahku. Sudah kuduga, dia lupa tentangku. Aku menatap sekeliling, aku pasti akan terlihat sangat lucu sekarang. "Aku bukan siapa-siapa, lupakan saja" jawabku dengan santai lalu kuakhiri dengan senyum kecil. Aku lebih suka cara ini, aku tidak akan memaksakan seorang yang tidak lagi mengingatku untuk mengenalimu. Aku lebih butuh seseorang yang akan mengatakan hallo bersamaan denganku karena itu berarti kami saling mengingat. Aku menatap ke langit lagi, hujannya masih belum berhenti tapi aku menjadi orang yang pertama meninggalkan tempat ini.

More details
WpActionLinkContent Guidelines