Pelayan Kecil Sang Raja

Pelayan Kecil Sang Raja

  • WpView
    LECTURAS 14
  • WpVote
    Votos 0
  • WpPart
    Partes 1
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación dom, abr 15, 2018
Saat dia terbangun dari tidur lelapnya, dunia sudah tak lagi sama. Orang-orang berpakaian aneh, ada kotak besi besar bergerak dengan manusia di dalamnya, tiang tinggi dengan lingkaran cahaya merah, kuning, dan hijau di atasnya, suara yang memekakkan telinga dan makian (sungguh bising), dan jangan lupakan sebuah kotak besar dengan suara-suara dan gambar yang bergerak. Oh, jangan lupakan juga tentang dirinya. Ugh! dia tidak suka dengan tubuhnya sekarang. Rambut hitam panjang yang sering kali terinjak oleh kakinya dan tubuhnya menonjol di beberapa tempat, dia nampak seperti wanita sekarang. Dia tidak suka dunia ini. Kakinya terasa panas saat menginjak tanah keras yang dilewatinya. Dan yang paling ia tak suka, tak ada seorangpun yang ia kenal. Dia rindu Yang Mulia Raja. Ia bahkan rindu semua pertengkarannya dengan Si Serigala Penggurutu. Hingga ia bertemu dengan seorang lelaki beraura pekat yang mengingatkannya akan rumahnya dulu. Iya, dulu sebelum perang besar antar kaum terjadi. Dan satu-persatu misteri terbuka. Dia, Eleanor, pelayan kecil Sang Raja dan ini kisahnya.
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Cermin Ke Dunia Aetheria
  • The Duchess
  • The price of a chosen path
  • Marera [Istri Putra Mahkota]
  • I'm More Than Just A Princess
  • Vampire Castle
  • The Miracle Of Crystals
  • ᴍʏ ʜᴜꜱʙᴀɴᴛ ʟᴏʀᴅ ᴛʜᴇ ᴅᴀᴠɪʟ// Tahap Revisi

Raina, gadis 16 tahun dengan rambut sebahu dan tatapan selalu penasaran, berdiri terpaku di depan rumah tua yang diwarisi dari neneknya. Bangunan itu berdiri seperti bangkai raksasa di tengah desa kecil bernama Windmere, penuh dengan tanaman rambat dan cat yang mengelupas. Tapi yang paling menarik perhatian Raina bukan dindingnya, melainkan cermin besar di loteng, berbingkai perak dengan ukiran aneh seperti simbol bintang, mata, dan akar pohon. "Aneh... kenapa cermin ini dingin sekali, padahal lotengnya panas," gumam Raina, meletakkan tangannya di permukaannya. Begitu jari telunjuknya menyentuh simbol di sudut kanan atas, udara di sekitarnya bergelombang. Cermin itu bersinar lembut biru, dan permukaannya mulai berputar seperti pusaran air. Sebelum Raina sempat mundur, sebuah suara terdengar di dalam kepalanya: "Pewaris Cahaya, waktumu telah tiba." Dan dalam sekejap, tubuhnya tersedot ke dalam pusaran itu. Raina terjatuh di atas rerumputan ungu dan langit jingga - dunia asing yang tampak seperti mimpi dan mimpi buruk bersatu. Makhluk bersayap perak melayang di udara. Pohon-pohon berbisik. Di kejauhan, berdiri sebuah menara kristal yang memancarkan sinar ke langit. "Selamat datang di Aetheria," kata seorang anak laki-laki sebaya yang tiba-tiba muncul di sampingnya. "Kami sudah menunggumu selama dua abad."

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido