BIDADARI BODOH

BIDADARI BODOH

  • WpView
    LECTURES 8
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Chapitres 2
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication mar., avr. 17, 2018
WpInfo
Fiction
Romance
Angin menerpa tubuh Dela. Sambil menatap langit sore nan indah. Diketinggian 150 meter, ia menatap kebawah sambil tersenyum dan meneteskan air mata. "Sudah lima tahun aku menunggu" Tangisan Dela pecah seketika, tentu karna ia hanya sendirian di atas gedung itu. Dela mengambil buku yang terselip diantara desain-desain bangunan yang ia buat. Buku itu terlihat lusuh, dan terlihat sudah lama. Dia membuka lembaran demi lembaran buku itu. Meski kini ia telah dikenal sebagai Arsitek yang hebat dan diakui di beberapa negara besar. Dia selalu mengingat masa lalunya yang menjadi cambuk agar ia menjadi seseorang yang sukses. "Aku merindukanmu!" airmata Dela pun menetes melihat foto seorang pria yang ada di negara asalnya. Meski selalu keluar negri, ia selalu membawa foto itu. Seorang pria yang pertama kali membuatnya jatuh hati. "Aku sangat menyayangimu" sambil mencium foto pria itu. Dela merasa sudah saatnya untuk menyampaikan sesuatu yang ia pendam.
Tous Droits Réservés
#352
setia
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • THE VIP : GOLDEN HIGH SCHOOL
  • Love Cologne
  • Hening Dalam Luka
  • BUCIN MAS ARSITEK [ SUDAH TERBIT ]
  • LIEUTENANT RIYYADH ISKANDAR (End)
  • Nearby Relations
  • Bad boy is a good boy for me [END]
  • Misi Kalisa (End)
  • RUANG KINANTI
  • Bertaut Rasa (Gratis)

Sekolah. Sekedar- ladel atau judul untuk bangunan yang menjulang tinggi yang menerima ratusan remaja yang katanya menuntut ilmu pendidikan. Apa itu sekolah? Yang ia tahu tempat ini adalah jelmaan neraka yang menggerogoti jiwa pelan-pelan. "Lo!!! Benar-benar licik!!" Teriakan itu meledak ke udara penuh emosi yang tidak bisa di jelaskan. "Hahahaha." Tertawa menggema, palsu, dan nyaring. Tangan terangkat menghapus jejak air mata gaib, padahal tidak ada air mata yang turun dari netra cokelatnya, mata itu kering tangis itu hanya sandiwara. Tawanya padam secepat kilat, seketika wajah itu berubah serius, seolah tidak pernah mengenal tawa. "Thanks for the praising to me." Wajah yang tadinya tertawa ceria langsung tergantikan dengan wajah yang berubah dingin, bahkan aura mengintimidasi mencekam lawan. "Gue nggak suka basa-basi," katanya pelan tapi menusuk. "Keluar dari sekolah ini dan point lo untuk gue! Atau......." Senyumnya miring dan beracun terukir. "Scandal lo gue sebar," tersenyum smirk. Menatap wajah gadis di depannya yang sudah pucat. "Lo ngancem gue??" Sebisa mungkin siswi bernama Velena itu terlihat berani. Ia tidak mau kelihatan takut di depan gadis dengan tai lalat di ujung mata kanannya itu. "No!" "Hanya memberikan saran," ujarnya santai." Saran gue ini bagus, nyelametin lo dari rasa malu, kedepannya."

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives du Contenu