BIDADARI BODOH

BIDADARI BODOH

  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Apr 17, 2018
Angin menerpa tubuh Dela. Sambil menatap langit sore nan indah. Diketinggian 150 meter, ia menatap kebawah sambil tersenyum dan meneteskan air mata. "Sudah lima tahun aku menunggu" Tangisan Dela pecah seketika, tentu karna ia hanya sendirian di atas gedung itu. Dela mengambil buku yang terselip diantara desain-desain bangunan yang ia buat. Buku itu terlihat lusuh, dan terlihat sudah lama. Dia membuka lembaran demi lembaran buku itu. Meski kini ia telah dikenal sebagai Arsitek yang hebat dan diakui di beberapa negara besar. Dia selalu mengingat masa lalunya yang menjadi cambuk agar ia menjadi seseorang yang sukses. "Aku merindukanmu!" airmata Dela pun menetes melihat foto seorang pria yang ada di negara asalnya. Meski selalu keluar negri, ia selalu membawa foto itu. Seorang pria yang pertama kali membuatnya jatuh hati. "Aku sangat menyayangimu" sambil mencium foto pria itu. Dela merasa sudah saatnya untuk menyampaikan sesuatu yang ia pendam.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Oddly Coupley (Complete)
  • Komposisi Cinta (END)
  • Bertaut Rasa (Gratis)
  • NOT SAME (COMPLETE)
  • Bad boy is a good boy for me [END]
  • Hening Dalam Luka
  • BUCIN MAS ARSITEK [ SUDAH TERBIT ]
  • Misi Kalisa (End)
  • Di Atas Kasta
  • #5 Reasons Why I Love You - END

"Daripada gue susah-susah cari calon suami yang oke, mending nikah sama lo aja, Ren. Yuk!" Ucapan Sybil dibalas semburan kopi yang langsung membasahi wajah jelitanya. Sementara itu, Daren yang terkejut tidak bisa bicara apa-apa. Otak sahabat yang sudah dua belas tahun dikenalnya itu, sepertinya memang benar-benar eror. "Lo tau kan kalau gue itu..." ucapan Daren menggantung. "Tau. Makanya gue mending sama lo. Tau sendiri gue nggak ada tendensi buat nikah. Nah... kalau sama lo at least nggak berasa nikah kan. Kayak kita bisa jadi housemate aja. Cuma emang 'terikat' supaya nggak kena grebek." Syibil mengemukakan alasannya begitu lancar. "Tap..." "Lo juga dapat benefit dari ini. Status kita nanti cukup buat jadi tameng di depan keluarga lo juga. Gimana?" Kemampuan persuasi Sybil memang luar biasa. Penawaran darinya terdengar menggiurkan ditelinga Daren. Lelaki itu pun dengan mudah setuju dibuatnya. "Deal."

More details
WpActionLinkContent Guidelines