My Partner Is Alisha [On Going]

My Partner Is Alisha [On Going]

  • WpView
    Reads 187
  • WpVote
    Votes 15
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Wed, Jun 12, 2019
Pria itu mengunciku, melentakkan kedua tangannya di sebelah kanan-kiri bahuku. Aku menundukkan kepala takut. "A-aku mohon ja-jangan sakiti aku," ucapku dengan nada bergetar, menahan air mata yang ingin keluar kapan saja. Pria itu mengangkat daguku, memintaku untuk menatap dirinya. Dengan perasaan takut, aku menatapnya tepat di matanya yang berwarna coklat terang. "Tenang sayang, aku tidak akan pernah menyakitimu," ucapnya sambil tersenyum. "I've finally found you..." Ucapannya membuatku bingung. Apa yang ia maksud? Tiba-tiba kepalaku sakit, sebelum aku terjatuh menghempas tanah, pria itu memegang tubuhku, detik berikutnya aku tidak sadarkan diri dalam dekapannya. @2020
All Rights Reserved
#593
blood
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • at: 12am
  • My Mate is a Vampire Princess (TAMAT)
  • We Are Not The Same | Kim Taehkyun
  • Blood Thirsty
  • My Savior Mate (Diterbitkan)
  • Limerence : Redemption
  • The Midnight Bride [TAMAT]
  • The Hunter's Moon (Moon Series #1)
  • MY DESTINY (COMPLETED)
  • Elio's Obsession [END]
at: 12am

Dia menolak ku. Satu-satunya pria yang pernah menolakku, satu-satunya pria yang berani mendorongku menjauh.. satu-satunya pria yang sangat ku inginkan. Aku akan memilikinya. Sekeras apapun dia mendorong pinggangku untuk memisahkan ciuman ini, sekeras itu pula aku memeluk tengkuknya dan memperdalam ciuman ini. Rasa frustasi telah membutakanku, membuatku nyaris tidak waras dengan rasa cemburu yang memenuhi seluruh tubuh. Mulutnya mengetat, berusaha menolak saat tanganku merambat mengusap bahu dan dadanya yang masih terbungkus kemeja. Mengerang, setelah sebuah kecupan akhir, aku menurunkan ciumanku menuju telinganya. Menghembuskan nafas pelan dan berbisik. "Ada apa? Bukankah kita sudah pernah melakukan ini?" Di pangkuannya, aku menggigit telinganya pelan, sedikit melengguh sebelum kembali menurunkan ciumanku kembali menuju lehernya yang selalu berhasil membuat imajinasiku menggila. Tangannya meremas pinggangku semakin keras, "Lepaskan aku." Dia menggeram, membuatku justru menyeringai dengan sangat senang. "Bagaimana bisa kau menolak keinginan istrimu hum?" Aku berbisik, mengangkat wajahku menatapnya. Bahunya melemah, wajahnya terkejut, diantara alkohol yang mengambil alih kesadarannya aku bisa merasakan sisa kemarahan yang selalu dia tunjukan padaku kembali membara. "Jangan merepotkan dirimu sendiri sayang, kau tau itu akan sia-sia." Aku mengerakan salah satu jariku mengusap wajahnya. Pencahayaan minim dari lampu kamar hotel membuat wajahnya yang selalu menjadi kesukaanku itu semakin terlihat menakjubkan. Dia menatapku marah, rahangnya bergemeretak. "Wanita licik." Aku tertawa, "Memang," Kembali mendekati wajahnya dan menatap bibir tipis menggairahkan miliknya dengan atensi penuh. Tanpa sadar menggigit bibirku sendiri, gemas. "Jika untuk mendapatkanmu, tidak akan ada wanita yang tidak bersikap licik." Aku harus membuatnya jatuh cinta padaku. Hanya padaku. Sean Aldarict

More details
WpActionLinkContent Guidelines