VIOLET

VIOLET

  • WpView
    Reads 192
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jan 5, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
"BUNDA NIKAHIN GUE SAMA KARTUN FROZEN?!!" gue teriak dalam hati, meronta-ronta pengen pergi. Dengan segala demi-demi-demian, gue shock, kaget, dan bengong jadi orang bego yang seakan gak tahu apa-apa. Bunda terlalu sembrono mempertaruhkan hidup anak bungsunya ini dengan manusia dingin melebihi freezer kulkas. == Violet, udah panggil aja gue gitu, tanpa embel-embel apapun. Gue cantik, manis, dan yang pasti bukan karena oplas. Tapi, diumur gue yang masih terbilang "eman-eman" buat yang namanya nikah, musti bertaruh dengan celemek merah dibalik dapur. elah hidup gue.
All Rights Reserved
#18
milea
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Don't call it love!
  • Crazy Marriage
  • Love in silence
  • Memories in Moon
  • KEPINCUT BRONDONG
  • (end) After Rebirth I Became Spoiled
  • TOILOVE : TAEHYUNG (COMPLETE!)
  • Patah Hati Setengah Komedi

Semesta rasanya tidak berpihak pada Cyntia. Tidak hanya perusahaannya yang sedang berada dibawah roda kehidupan, tetapi neneknya sakit dan terus memaksanya menikah. Orang yang ia cintai dan mencintainya pun hilang tak ada kabar. Tak ada pertolongan rasanya. Pada akhirnya pilihan terburuk muncul. Ah, mungkin tak bisa disebut pilihan. Ia harus melakukan itu dengan terpaksa. Pria yang melukiskan kehidupan kelamnya pun muncul. Konyol rasanya saat pria itu mengajaknya menikah. *** Aku tak tahu apa itu cinta. Bahkan, saat ini bagiku itu satu kata yang abstrak luar biasa. Baginya rasa yang terasa itu cinta, tetapi mengapa rasanya merusak jiwa raga. Bagiku itu bukan cinta, melainkan suatu rasa yang amat hampa. Akhirnya satu kata menjadi beda makna. "Bukankah kau sangat membenciku?" Tanyaku. Ia diam, tanpa menatap mataku. Secara tak sadar aku tersenyum sinis padanya dan aku berusaha menahan rasa kesalku. "Apakah melemparkan susu basi ke wajahku adalah bentuk rasa suka?" Aku mengungkit masa lalu. Matanya pun mulai menatap mataku. Aku takut dengan wajah itu. Di bawah meja tersembunyi tangan gemetarku. Mataku berpura-pura tegar saat bertemu matanya itu. Aku berusaha bicara meski lidahku terasa kelu. Aku berusaha berdiri tegak meski kakiku tak berdaya. Waktunya pergi dari hadapannya. Aku akan katakan terakhir kalinya. "Jangan sebut itu cinta!" "Aku melamarmu bukan karena cinta. Bukankah, seharusnya kau yang memohon padaku agar kita bisa memanfaatkan satu sama lain?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines