Story cover for Senior High School by SyairaAyu
Senior High School
  • WpView
    Reads 303
  • WpVote
    Votes 31
  • WpPart
    Parts 6
  • WpView
    Reads 303
  • WpVote
    Votes 31
  • WpPart
    Parts 6
Ongoing, First published Apr 20, 2018
Cerita seorang perempuan yang menyimpan begitu banyak luka di hatinya. Namun tidak ada satupun orang yang tahu kecuali Mama dan Papanya. Dia menutupi lukanya dengan senyumnya yang ceria. 

Semua melihat dirinya akan menilai bahwa dirinya seorang yang ceria dan tidak ada beban sedikitpun. Namun mereka salah. Perempuan itu menyimpan beban begitu banyak. Sehingga setiap malam dia akan menangis sendiri dikamarnya.
All Rights Reserved
Sign up to add Senior High School to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 10
Sudut Luka Nazea cover
CEMARA, NAMUN SEMENTARA  cover
pai pai  B 94 ZA cover
Waktu?  cover
Aries [COMPLETED] cover
LUKA cover
Cermin Retak  cover
Catatan Kematian Saera (END) cover
should we be together? cover
NEED HUGS cover

Sudut Luka Nazea

32 parts Ongoing

"ketakutan terbesar seorang anak adalah perpisahan orang tuanya. Kehilangan mama dan papa sama halnya dengan kehilangan seluruh napas. Enggak ada mama sama papa rasanya sunyi dan hampa, rasanya berkali-kali lipat lebih sakit dari apapun. Dunia juga terasa sudah tidak berarti." ~Queenza Nazea Azalea ˚₊‧꒰ა☁️☁️☁️໒꒱ ‧₊˚ Di ajarkan melangkah, meski tertatih-tatih dan berujung jatuh. Di latih menapaki tangga meski berulang kali terhenti karna lelah. Bagi nazea, hal yang paling menyedihkan adalah ketika dihadapkan dengan kehancuran keluarga. Nazea benci perpisahan. Karena nazea tidak suka di tinggalkan. Nazea benci sendirian, karena nazea kesepian. Namun, apa yang sudah retak, akan tetap pecah. Pada akhirnya, meskipun nazea tidak suka, nazea harus menerima. Ada yang mengangkat tangan tinggi-tinggi seraya menjerit tak sanggup, ada yang menyembunyikan kepedihan sekuat mungkin sembari terus menerus mengulas senyum. Karena hanya diperuntukkan dua pilihan, bertahan atau menyerah? Atau lebih tepatnya, mampukah berdiri di atas ubin keikhlasan? "lagi, dunia kembali mempermainkan hidupku. Namun, sampai kapan?"