Impossible [Our] Dreams

Impossible [Our] Dreams

  • WpView
    Reads 63,925
  • WpVote
    Votes 5,172
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jan 21, 2019
[ Go follow terlebih dahulu, karena cerita ini akan diprivate secara acak ] Pria itu semakin mendekat bagai predator yang bersiap menerkam mangsanya, membuat sekujur tubuhku berkeringat ketakutan akan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi. "Argh!!" dia mendorong tubuh dengan kasar hingga terpelanting diatas ranjang, dan mulai mengurung tubuhku yang berada dibawahnya. Iris mata legamnya menatapku dalam, mampu membangkitkan perasaan aneh yang berusaha kutepis. "S-saya mohon jangan lakukan ini," pintaku memohon, berharap dia sedikit iba dan melepaskan kupergi. Namun, sepertinya perkiraanku salah. Semua terjadi begitu saja saat lidahnya menyapu leherku dengan sensual, geraman yang keluar dari bibirnya entah kenapa malah semakin terdengar seksi. Tidak! Apa yang baru saja aku pikirkan?! Tidak seharusnya aku malah terlena, seharusnya aku mendorongnya menjauh. Tetapi ternyata kekuataanku tidaklah sebanding dengannya yang seorang pria. Pria itu mengangkat wajahnya setelah puas mencicipi segala jengkal leher jenjangku, sehingga membuatku bisa melihat wajah tampannya yang sedang menyeringai. "Kamu milik saya, jadi apapun yang akan saya lakukan.." pria itu menunduk, mengecup pelan bibirku tanpa bisa kucegah. "Tolong nikmati saja." Sinting!
All Rights Reserved
#985
prillylatuconsina
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Skenario Hati [Sudah Terbit]
  • Cuddling Myself
  • iL Legame (tamat)
  • Stay (Away)
  • Love or Obsession (21+)
  • My Sugar Daddy(END)

Blurb: Semuanya berawal dari pertemuan tak sengaja antara Nathayas dengan seorang lelaki di sebuah KRL jurusan Stasiun Jakarta Kota. Tak menyadari bahwa dirinya salah memasuki gerbong membuat Nathayas harus berkali-kali merasakan debaran aneh di dalam hatinya setiap kali menatap senyuman khas lelaki yang berdiri di hadapannya. Tepat di hadapannya. Tak mau ambil pusing dengan segala macam ketidak sengajaan yang ditemui sepanjang perjalanannya, ia pun memutuskan untuk melupakan semuanya, termasuk melupakan senyuman yang membuatnya tak berhenti menyunggingkan senyum di bibirnya. *** "Mbak, itu masih ada yang kosong," ucap lelaki itu kemudian sambil menunjuk kursi di seberang, kulihat kursi itu diantara dua orang lelaki. Aku menggeleng pelan. Tiba-tiba lelaki itu berjalan ke arah kursi yang ditawarkan olehnya dan meminta seorang Bapak yang berada di ujung kursi untuk bergeser. Ia lalu menatapku dan kembali menyuruhku untuk duduk. Aku berjalan perlahan menghampiri lelaki itu dan duduk di ujung kursi. Sementara lelaki itu bersandar di besi yang berada di sebelahku. Aku mengamati punggungnya dari tempatku duduk. Tiba-tiba ia berputar dan meletakkan tas ranselnya di atas tempat dudukku. Ia tersenyum ramah saat melihatku masih memperhatikannya. ***

More details
WpActionLinkContent Guidelines