Impossible [Our] Dreams

Impossible [Our] Dreams

  • WpView
    Reads 63,956
  • WpVote
    Votes 5,172
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jan 21, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
[ Go follow terlebih dahulu, karena cerita ini akan diprivate secara acak ] Pria itu semakin mendekat bagai predator yang bersiap menerkam mangsanya, membuat sekujur tubuhku berkeringat ketakutan akan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi. "Argh!!" dia mendorong tubuh dengan kasar hingga terpelanting diatas ranjang, dan mulai mengurung tubuhku yang berada dibawahnya. Iris mata legamnya menatapku dalam, mampu membangkitkan perasaan aneh yang berusaha kutepis. "S-saya mohon jangan lakukan ini," pintaku memohon, berharap dia sedikit iba dan melepaskan kupergi. Namun, sepertinya perkiraanku salah. Semua terjadi begitu saja saat lidahnya menyapu leherku dengan sensual, geraman yang keluar dari bibirnya entah kenapa malah semakin terdengar seksi. Tidak! Apa yang baru saja aku pikirkan?! Tidak seharusnya aku malah terlena, seharusnya aku mendorongnya menjauh. Tetapi ternyata kekuataanku tidaklah sebanding dengannya yang seorang pria. Pria itu mengangkat wajahnya setelah puas mencicipi segala jengkal leher jenjangku, sehingga membuatku bisa melihat wajah tampannya yang sedang menyeringai. "Kamu milik saya, jadi apapun yang akan saya lakukan.." pria itu menunduk, mengecup pelan bibirku tanpa bisa kucegah. "Tolong nikmati saja." Sinting!
All Rights Reserved
#936
prillylatuconsina
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Girl In White Lingerie (COMPLETED)
  • Cuddling Myself
  • Izinkan Aku Menyayangimu
  • My Sugar Daddy(END)
  • Loving You
  • The Price of Obedience

WARNING!!! 21+ (Sudah diperingatkan ya. Jangan ngeyel yang belum cukup usia) *Belum diedit sedikitpun. Penuh gramatikal eror.* "Tidak! Jangan mendekat!" teriakku takut. Aku bersembunyi di sudut ruangan. Cahaya rembulan yang menyisip memasuki jendela melalui sela-sela tirai perlahan memampukan mataku untuk melihat sosok itu. Tinggi dengan tubuh atletis. Ototnya yang terbalut sempurna dengan tiga lapisan tuxedo membuatnya lebih terkesan maskulin. Aku menelan ludah keras. langkah beratnya semakin mendekatiku. "Aku bilang berhenti!" teriakku lebih keras, suaraku bergetar ketakutan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines