Cinta Untuk NAWAILAH

Cinta Untuk NAWAILAH

  • WpView
    Leituras 17
  • WpVote
    Votos 1
  • WpPart
    Capítulos 2
WpMetadataReadEm andamento
WpMetadataNoticeÚltima atualização sáb, mai 12, 2018
"Apa yang paling kamu inginkan di dunia ini?" tanya seorang pria yang saat ini tengah memandang lekat seorang wanita yang duduk jauh di ujung bangku taman yang mereka duduki saat ini, keberadaannya seolah tak tergapai oleh pria yang tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Wanita yang dari tadi tengah sibuk dengan pena yang diapit oleh ibu jari dan jari telunjuknya serta buku yang di pangkuannya itu kini mengangkat wajah yang sayu, mata indah itupun memandang lurus dan jauh ke depan seolah apa yang diinginkannya tidak mampu ia gapai "Yang aku inginkan.... cinta dan kebahagiaan sebuah keluarga"
Todos os Direitos Reservados
#259
rafa
WpChevronRight
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • Air Mata Cinta Di Teras Surga ( SELESAI )
  • yang kupeluk dalam tenang
  • IKATAN CINTA HARAY {END}
  • AKU ISTRINYA TAPI BUKAN PILIHANNYA
  • Dua Jejak (novel teaser)
  • Istri Kedua Suamiku
  • Shadows of Love
  • TIME will TELL {On Going}
  • Cause We are Family
  • Lantunan Surah Asy-Syams

Malam ini, beberapa hari setelah aku kembali dari Arab Saudi, aku bersama ayah dan ibuku datang ke rumah salah seorang kerabat ayah untuk bersilaturrahmi di hari raya, dalih kami. Padahal, yang sebenarnya adalah kami memiliki maksud dan tujuan yang lebih utama dari bersilaturrahmi di hari raya, yakni untuk melihat gadis yang diinginkan ibu menjadi calon istriku. "Naira. Naira Salsabila nama lengkapnya. Naira ini adalah putri kandung kami." Begitu ayah gadis yang ingin kulihat itu memperkenalkan putri beliau kepadaku, dan kepada ibu dan ayahku, saat Naira, sapaan si gadis berhijab orange muda, menyajikan teh untuk kami yang sedang bertamu ke rumahnya. Naira, gadis berumur dua puluh tahun itu perlahan mulai mencuri pandanganku. Wajah putih lembut. Pipi yang merona. Tatapan matanya yang sendu. Senyum tipis yang mengunci bibir. Sikapnya yang santun. Pandangan yang senantiasa terkurung sungkan. Semua hal yang sungguh indah lagi anggun di mataku tersebut, seakan tak membiarkan hatiku untuk ragu pada niat suciku terhadapnya. Bahkan, sedikitpun keraguan tak ada bayangan akan tumbuh.

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo