Destinesia #Sungai

Destinesia #Sungai

  • WpView
    Reads 183
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Nov 1, 2018
"Hidup itu mengalir, dinikmati, tak ada yang perlu disesali" kataku menenangkannya. "Tunggu sampai saat sesuatu yang kau abaikan menumpuk menjadi besar dan akan menghalangimu menuju tujuanmu" dan seperti biasa, ia memintaku untuk waspada. ** Tentang Adrian. Laki-laki itu seperti sungai. Mengalir apa adanya, menikmati setiap momen yang disajikan di depannya tanpa pernah tau hidup selalu membawa niat yang kadangkala tersembunyi hampir disetiap momen. Sampai ia bertemu seseorang yang darinya ia belajar : Hidup bukan hanya tentang hari ini, tapi juga kemarin dan esok.
All Rights Reserved
#25
career
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • GAIRAH CINTA HOT DUDA (TAMAT)
  • gibran's regred // defan gidara
  • When the Rain Stops Following Me
  • Married to the Enemy [DIRA] - end
  • My Indigo side
  • MY AMAZING GIRLFRIEND [COMPLETE]
  • TUBUH GADIS NERD [END]
  • THE CLIMB [Completed]
  • My Teacher My Husband

"Iya sih, enggak penting juga. Enggak ada hubungan juga sama gue, cukup tahu aja," Mince mengambil tisu lalu mengusap air mata dan terkekeh. Ia hanyalah sebagian keryawan kecil di sini. "Udah jangan sedih lagi, nanti nyokap lo tambah sedih liat lo kayak gini," "Iya sih," "Makan yuk, udah jam 12 nih, gue laper," Dina menenangkan Mince. Mince menarik nafas menatap form form yang ada di atas meja, "Tapi kerjaan gue banyak," "Udahlah dikerjain nanti aja, lo harus makan dulu biar kuat," "Kuat ngapain?," "Kuat bercinta," timpal Dina. "Itu sih lo, bukan gue," Seketika Dina tertawa ia melirik Mince berdiri di sampingnya, "Bercinta itu asyik tau," "Ya asyiklah, kalau enggak asyik orang enggak mungkin bela-belain bulan madu sampai ke ujung dunia demi buat anak banyak-banyak," ucap Mince asal, melangkah keluar dari office. "Emang lo pernah ngerasain?," "Enggak," "Nanti kalau udah punya pacar dicoba aja," "Ogah," "Enak tau," "Ih apaan sih lo," "Gue pernah coba sama pacar gue, rasanya enak," "Ih ...," "Makanya cari cowok, biar bisa enak-enak," "Ih Dina !, lo apa-apaan sih cerita ginian," "Biar lo tau lah," "Asemmm," Tawa Dina kembali pecah, mereka berjalan menuju EDR. Ia senang melihat Mince kembali tertawa. Ia tahu bahwa wanita cantik ini begitu menyayangi ibunya lebih dari apapun. Sehingga rela menjual barang berharga miliknya demi pengobatan sang bunda. Ia sengaja berbicara seperti ini demi melihat tawa Mince.

More details
WpActionLinkContent Guidelines