My Secret Admirer? HIATUS

My Secret Admirer? HIATUS

  • WpView
    Membaca 413
  • WpVote
    Vote 71
  • WpPart
    Bab 8
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Rab, Mei 30, 2018
[25.04.2018] WARN : ISI CERITA MUNGKIN MENGANDUNG KATA-KATA KASAR. "Lo cewek yang waktu itu yang nabrak gue kan?" Tanya-nya dengan nada yang dingin dan muka yang bisa dibilang datar. "I..iya" Jawabnya dengan nada gugup. "Ngapain?" Tanyanya lagi, namun membuat Puput bingung dengan perkataan itu. "Ha? Gue? Ngapain? Nungguin abang. Dari tadi gadateng-dateng" Jawab Puput dengan muka memelasnya. "Lo Puput Ulfah Arazi?" Tanyanya, 'Lagi'. "Iya, kok tau?" "Abang lo Dava kan? Dia suruh gue pulang bareng lo" Jawabnya yang lagi-lagi dengan muka datarnya. "Ih, bohong lo ya?! Gamau! Gue gamau sama lo, lo pasti bohong kan? Gue tau banget sama orang-orang yang punya niatan jahat kayak lo. Pasti lo mau nyulik gue ya?! Ogah-ogah, pasti lo mau apa-apain gue ya?! Bisa-bisa gue dikur-" "Berisik!" Potongnya dengan sedikit meninggikan nada bicaranya. Dududu:3 Mau tau? Tentang Puput yang selalu mempunyai pangkat tinggi didepan lelaki, kini terpaku dan jatuh cinta pada si kutub. Ya, si kutub yang membuat Puput mempunyai seribu keinginan untuk mengetahui semua tentangnya. Kuy baca! Author minta VotMent-nya yoo. Taengkyu:3
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Amor Eterno
  • Make a Story With You
  • Rude Beautiful Girl [Sudah Terbit]
  • Misi Kalisa (End)
  • Marga Alvarezka
  • Summer Triangle  (Revisi)
  • ARKAN |END| Belum Revisi
  • SLOWLY
  • My Enemy Ayna
  • ON SIGHT (Completed)

"Lo mau hubungan kita jadi kayak apa, Harlen?" Qila menghentakkan tangan pria itu, lalu menoleh cepat dengan sorot mata tajam. Suaranya bergetar-bukan karena takut, tapi karena menahan amarah yang sudah terlalu lama disimpan. "Aku... aku pengin hubungan kita jadi lebih serius," jawab Harlen pelan, nadanya seperti memohon. "Serius?" Qila tertawa miris. "Serius kayak gimana? Kayak lo yang tiba-tiba udah punya tunangan tanpa bilang apa-apa ke gue?" Harlen terdiam, tak sanggup membalas. "Atau lo mau gue jadi simpanan, gitu? Tapi sayangnya, Harlen, gue bukan cewek murahan kayak gitu," lanjut Qila sambil memutar bola matanya, malas sekali menatap wajah pria di hadapannya. "Bukan gitu maksud gue..." Harlen mencoba meraih tangan Qila lagi, tapi kali ini pun langsung ditepis. "Gue capek dengar omongan lo yang manis-manis tapi ujung-ujungnya nyakitin. Lo bilang pengin serius? Lo bilang pengin perkenalin gue ke orang tua lo? Please, Harlen. Udah telat." "Qila, tolong dengerin dulu..." "Cukup." Qila menarik napas dalam-dalam, menahan emosi yang hampir meledak. "Ini terakhir kalinya kita ketemu. Setelah ini, gak akan ada lagi 'kita'. Gak sengaja ketemu pun, gue harap itu gak akan pernah kejadian. Gue muak liat muka lo." Langkahnya cepat, pergi meninggalkan Harlen yang masih berdiri mematung di tempat. Tapi Harlen belum menyerah. "Qila! Tunggu, dengerin dulu!" Namun Qila tetap berjalan, masuk ke dalam taksi yang sudah menunggunya di pinggir jalan. "Jalan, Pak," ucapnya pada sopir. Taksi pun mulai melaju. Dari kaca belakang, bayangan Harlen terlihat masih mengejarnya, berteriak, memanggil namanya. "QILAAAA!" Tapi Qila tak menoleh. Tatapannya lurus ke depan, seolah tak ada apa pun di belakang yang layak dilihat kembali. Dalam hati, ia berbisik, Maaf, Harlen... tapi kali ini aku benar-benar udah gak sanggup.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan