Life In The Elite School

Life In The Elite School

  • WpView
    Reads 726
  • WpVote
    Votes 68
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 23, 2018
Pada tahun 2030 dimana negara indonesia telah menjadi negara termaju didunia. Dan segi sumber daya alam dan manusia kian makin tinggi sejak 10 tahun terakhir. Membuat negara indonesia menjadi sangat makmur. Itu tidak terlepas dari peran pemerintah yang sangat adil dalam mengambil keputusan dan salah satunya adalah mendirikan sekolah paling elit. Sekolah itu hanya menerima siswa yang pintar dalam di bidangnya masing masing. Dan fasilitasnya sudah setara dengan sekolah yang ada diluar negeri seperti jepang. Korea. Dll. Dan 100 ℅ akan mendapatkan perkerjaan di perusahaan ternama setelah lulus dari sekolah elit.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • RIMBA MERUN
  • Month of Death  [24679]
  • Black Heart
  • SMA : Stres Manis Aja [END] Tahap Revisi
  • Sang Rouge
  • Mengarang dengan Luka (END)
  • The Days for Rukia Kuciki
  • Avicenna: Home Before the Storm
  • e·the·re·al #1: aiden ✔️
  • Behind The Smile (TERBIT)

Di sebuah dusun terpencil, tersembunyi di jantung hutan tropis Lampung, berdiri sebuah sekolah bernama Rimba Merun. Di sanalah Bu Mar, seorang guru tua dari kota menempuh perjalanan puluhan kilometer setiap hari demi sekolah ini tak di tutup. Bersama dua guru lainnya, ia mengajar segelintir anak dusun yang miskin dan sederhana. Murid-muridnya mayoritas berasal dari keluarga tak mampu. Di dusun itu, kebanyakan orang tak berpendidikan, hidup dari buruh kelapa sawit, dan pertanian seadanya. Sekolah dianggap sia-sia. Namun, para guru tak menyerah begitu saja dalam mendobrak lingkaran setan. Lalu datanglah ancaman. Perusahaan konglomerat sawit mengklaim bahwa tanah sekolah dan hutan di sekitarnya, termasuk dusun Rimba Merun, masuk dalam wilayah konsesi mereka. Pabrik itu akan menggusur tanah mereka. Bu Mar dan guru lainnya tidak tinggal diam. Bersama murid dan sebagian warga yang mulai sadar dan berani, mereka membangun perlawanan. Namun perjuangan tidak mudah. Di tengah tekanan ekonomi, masyarakat terpecah dan merasa tak mampu karena yang mereka hadapi adalah koorporasi raksasa, sedangkan mereka, hanya orang miskin yang punya tanah dengan status warisan turun temurun. Ini adalah kisah tentang sekolah kecil di tengah hutan, tentang harapan guru-guru yang tak berhenti percaya menyalakan api pendidikan, tentang anak-anak yang tak berhenti bermimpi, dan potret masyarakat pedalaman yang bertahan hidup ditengah gempuran ekoonomi. Jika sekolah dan dusun itu hilang, bukan hanya bangunannya yang lenyap, tetapi juga seluruh mimpi mereka.

More details
WpActionLinkContent Guidelines