Hingga Terbit Fajar

Hingga Terbit Fajar

  • WpView
    LECTURES 327
  • WpVote
    Votes 69
  • WpPart
    Chapitres 4
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication ven., mai 18, 2018
WpInfo
Fiction
Romance
"aku ingin menjadi poros bumi, karna bumi itu ibarat kamu. namun aku juga ingin menjadi mentari..kenapa? jika aku menjadi poros bumi aku hanya akan tetap di situ bersama mu, namun jika aku menjadi mentari, aku tidak hanya bisa menyinari mu.. walaupun langit gelap di malam hari aku bisa menyinari sisi bumi yang lain, karna apa? bumi itu gak cuma punya satu sisi, namun sangat lah banyak, dan karna mentari mencintai bumi..ia bisa menyinari bumi dengan adil, dan jika ada yang bilang mentari tidak ada di malam hari, mereka salah.. ingat! ketika malam hari berarti aku ada di sisi lain dari mu dan aku juga ada di langit mu saat malam bukan sebagai mentari, namun sebagai bulan..cahaya bulan adalah cahaya ku" jelas dafika "jadi kamu ingin menjadi siapa?" tanya kay dengan senyuman nya yang merayu "hmm~ entah" jawab dafika dengan menaikan kedua bahu dan alis nya pertanda bahwa ia tersipu malu Next baca yaaa~
Tous Droits Réservés
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Memories in Moon
  • [ √  ] AMERTA ¦ Ft Huang Renjun
  • BULAN (END)
  • DESPERATE (COMPLETED) ✔
  • Love in Difference
  • Say You Love Me (BAD BOY)
  • If You ✔️
  • BulBin (END)
  • Mentari Tanpa Sinar
  • Ketaksaan Cinta ✔️

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives du Contenu