ALAM DUA SUASANA

ALAM DUA SUASANA

  • WpView
    Reads 34
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadComplete Tue, May 1, 2018
WpInfo
Poetry
Ketika malam bersama siang, mereka saling mencinta, aku tak paham sebenarnya kata. Saat perangsang menghirup udara, letih kata membungkam nafas, aku tidaklah kuasa. Waktu sedang berperang dengan harapan, mereka beradu kuat pada pendirian, aku harapkan berdamai. jika bahagia perihal teman, tidak ada masalah!, walau yang lain beradu mesra. Jika asmara menjalin rupa, dia salah besar!, apa guna hati?. Apakah hanya sebagai saksi?, apakah ia tidak ikut menjalin rasa? Jika ada hak untuk membela, percayalah aku yang pertama. Diamlah engkau! jangan membantah! Karena jiwa ku telah hidup aura kesatria! Apabila kau tidak percaya, jangan ganggu aku, biarlah aku yang hidup bersama semua khayalanku...! Semua hanya untuk teman dan pujanggaku!
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SENJA KU SENJA MU
  • di akhir perang
  • Stay or Go
  • Narasi patah hati
  • Our Journey To Love
  • Kenapa Harus Aku?! || Kim Sunoo [END]✓
  • ALBARA - (Jatuh Cinta Itu Lucu)
  • The Love Story" Kurus & Mancung"
  • Air Mata Cinta

Persahabatan adalah kunci pertemanan yang baik. Tak jarang persahabatan yang akhirnya membawa pada perasaan yang lebih. Jingga dan langit bersahabat sejak kecil hingga remaja, disalah satu antara mereka menginginkan lebih dari sebuah sahabat. Tapi semua tak seperti yang diinginkan, semua berubah ketika ada orang lain yang datang diantara mereka. --------- Ketika satu jiwa menyapa dan bertemu dengan hati, maka rasa tak lagi dapat dipungkiri. Senja pun datang membawa kebahagiaan dan kesedihan, tak kala perasaan yang tumbuh dengan cinta harus dilapisi dengan kecewa dan air mata .. Semua semakin bewarna ketika dia bertemu pada pria yang membuatnya lupa atas segala yang dirasa, bernama awan. semakin hari semakin kurasa, ku tak bisa membohongi semua karena aku memang merasakannya. jika semua tak lagi bisa bersama seperti senja pada malam, lalu bagaimana mentari pada pagi? [Part by part]

More details
WpActionLinkContent Guidelines