Sunyi, Kelam, dan Merindu

Sunyi, Kelam, dan Merindu

  • WpView
    Membaca 49
  • WpVote
    Vote 2
  • WpPart
    Bab 2
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Kam, Mei 3, 2018
Ini sebuah kumpulan kalimat puitis. Kesukaan memang menuangkan segala sesuatu dengan kalimat-kalimat yang hampir dikatakan hiperbola, hampir sama dengan sifat tokoh aslinya "hyper". Kalau kalian membacanya, dan merasakan apa yang sama kurasa, mungkin kalian adalah orang yang nantinya akan menjadi wanita paling bahagia. Jangan takut sedih, Jangan takut senang, Santai saja, imbangkan segalanya. KITA WANITA HEBAT!
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#80
kelam
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • DALAM DETAK (SELESAI)
  • Take a Breath [END] #BJPW
  • RAJAWALI [REVISI]
  • happy ending  Versi Ku Kapan?
  • BERNARD BEAR
  • Again?
  • Transmigrasi Kematian Istri (end)
  • Setulus Rasa Untuk Kehidupan
  • Gudang Ilmu (Tamat)
  • Cinta Sang Prajurit (END)

[ CERITA DIPRIVASI ] Semua orang berlomba bergaya, bekerja, berkomunikasi demi mendapatkan satu rasa yang disebut; Cinta. Hingga lupa pada takdir yang tak selalu menuruti kehendak, sebab ada empunya. Kalau saja cinta selalu seindah bait puisi milik Penyair ternama, mungkin perjuangan benar tak ada artinya. Namun, lagi-lagi, konspirasi alam tak pernah memiliki jadwal. 'Ia' berputar semaunya. Mengitari manusia yang tanpa tahu malu terus berangan. Atau ... justru mendukung mereka para pesimis. Apakah ketika mencintai, kau selalu siap dengan patah hatinya? Hei, kedua hal itu adalah paket wajib yang tak akan bisa kau pilih salah satu. Percayalah, senikmat apa pun cinta yang kaurasa hari ini, kelak alam akan memintanya untuk menghancurkanmu. Menjadi kepingan raga, rasa yang hancur dan kau menderita. Apakah menakutkan? Tidak. Karena manusia selalu merasa dirinya yang terhebat. Berpikir mampu bertahan dalam duka yang teramat. Berangan mampu mengubah cinta menyiksa menjadi bahagia penuh euforia. Bukankah manusia itu makhluk paling serakah? Ia tidak pernah berpikir, kalau segala sesuatu memiliki batas. Kecuali, Sang Pencipta. Maka, beginilah ritmenya; Cinta-->Bahagia-->Jenuh-->Luka-->Mengakhiri/Memperbaiki? Selamat Membaca! Salam, Curious_ Ditulis-Diakhiri: Maret 2017

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan