Red Thread Of Destiny

Red Thread Of Destiny

  • WpView
    Прочтений 46
  • WpVote
    Голосов 5
  • WpPart
    Частей 2
WpMetadataReadВ процессе
WpMetadataNoticeLast published срд, апр. 15, 2020
WpInfo
Fiction
Fantasy
Ketika dendam berubah menjadi kekuatan, mampukah aku membalaskanya? Ketika kekuatan berubah menjadi cinta, mampukah aku menahannya? Ketika kau menatap benci pada kebenaran, mampukah aku menggapaimu? Mampukah aku menggapaimu yang kini duduk dalam singgasana yang penuh dengan kegelapan? "Aku adalah kamu, kamu adalah aku." Inilah keadaan kita saat ini. Keadaan yang mampu mengubah hubungan kita. Hubungan yang mengikat kita dengan benang manis berwarna merah. Hubungan yang kita sebut sebagai cinta.
Все права сохранены
#248
war
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

Вам также может понравиться

  • Memories in Moon
  • A' Little Girl
  • Second Life
  • Harapan Dandelion yang Rapuh
  • hay mantan !!
  • When White Become Black
  • My Enemy
  • Forgive Me My Angela
  • RANTAI MERAH
  • She's Not Angle Or Devil [On Going]

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

Подробнее
WpActionLinkТребования к контенту