Dua Sisi Sekeping Koin

Dua Sisi Sekeping Koin

  • WpView
    Leituras 115
  • WpVote
    Votos 2
  • WpPart
    Capítulos 4
WpMetadataReadEm andamento
WpMetadataNoticeÚltima atualização sex, set 27, 2019
"Kita ini seperti utara - selatan, dua kutub yang meski berbeda tapi tetap saling tarik-menarik" "Depan-belakang" "Hah?" "Daripada dua kutub yang tarik menarik itu, aku lebih suka mengibaratkan kita sebagai dua sisi -depan dan belakang-, bertolak belakang, beda pemikiran tapi tetap satu jalan, tetap beriringan. Seperti dua sisi di sebuah koin. Apa artinya koin kalau sebuah sisinya rusak, hilang, atau hancur?" "Nggak laku. Ngga kepake. Nggak punya nilai. Iya kan?" "Iya. Itu kita. Dua sisi sekeping koin"
Todos os Direitos Reservados
#780
lokal
WpChevronRight
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • Mahligai Sunyi
  • OUR PROMISE
  • Not Me & Not Mine
  • Don't Talk About Money
  • BETWEEN
  • F A T E |NA Jaemin|
  • Triangle 2
  • LAKSADEKA
  • Silent Scars | Orine

Novel "Mahligai Sunyi": Senja mulai menua di balik jendela kaca, membiaskan cahaya jingga yang merayap perlahan di sudut ruangan. Aku duduk dalam diam, menatap kosong pada cangkir teh yang tak lagi mengepul. Aroma melati yang biasa menenangkan kini terasa hambar di inderaku. Aku terjebak dalam pusaran pikiranku sendiri, menggenggam kenyataan yang pahit namun tak bisa kutolak. Aku pernah percaya bahwa cinta adalah tentang memilih satu orang, bertahan dengannya dalam segala cuaca, dalam segala luka. Namun, kini aku mengerti bahwa terkadang, cinta juga berarti kehilangan-kehilangan harapan, kehilangan rasa percaya, bahkan kehilangan diriku sendiri dalam labirin luka yang diciptakan oleh seseorang yang seharusnya menjagaku. Arion adalah cintaku, atau setidaknya pernah menjadi. Aku mempercayainya lebih dari yang seharusnya, mencintainya lebih dari yang pantas. Namun, cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga. Tidak cukup untuk menghindarkanku dari rasa sakit yang berkali-kali ia hadiahkan. Tidak cukup untuk membuatnya berhenti mencari bahagia di tempat lain. Aku telah memaafkan, berkali-kali. Aku telah memberi kesempatan, hingga tak tahu lagi batas dari kata "cukup." Tetapi, sampai kapan aku harus terus bertahan? Sampai kapan aku harus mengorbankan kebahagiaanku sendiri demi menjaga sesuatu yang terus menerus hancur? Dan di sinilah aku, berdiri di persimpangan. Antara bertahan dengan luka atau pergi dengan sisa-sisa keberanian yang kupunya. Aku tidak tahu bagaimana akhir dari kisah ini. Yang kutahu, aku hanya ingin menemukan kembali diriku yang telah lama hilang.

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo