Dua Sisi Sekeping Koin

Dua Sisi Sekeping Koin

  • WpView
    Reads 115
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Sep 27, 2019
"Kita ini seperti utara - selatan, dua kutub yang meski berbeda tapi tetap saling tarik-menarik" "Depan-belakang" "Hah?" "Daripada dua kutub yang tarik menarik itu, aku lebih suka mengibaratkan kita sebagai dua sisi -depan dan belakang-, bertolak belakang, beda pemikiran tapi tetap satu jalan, tetap beriringan. Seperti dua sisi di sebuah koin. Apa artinya koin kalau sebuah sisinya rusak, hilang, atau hancur?" "Nggak laku. Ngga kepake. Nggak punya nilai. Iya kan?" "Iya. Itu kita. Dua sisi sekeping koin"
All Rights Reserved
#743
lokal
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Mahligai Sunyi
  • Triangle 2
  • LINE OF DESTINY
  • Troublemaker >< Lovemaker [completed]
  • DIFFERENT[Completed]
  • Silent Scars | Orine
  • KITA DAN SEMESTA
  • KUTUB
  • Don't Talk About Money

Novel "Mahligai Sunyi": Senja mulai menua di balik jendela kaca, membiaskan cahaya jingga yang merayap perlahan di sudut ruangan. Aku duduk dalam diam, menatap kosong pada cangkir teh yang tak lagi mengepul. Aroma melati yang biasa menenangkan kini terasa hambar di inderaku. Aku terjebak dalam pusaran pikiranku sendiri, menggenggam kenyataan yang pahit namun tak bisa kutolak. Aku pernah percaya bahwa cinta adalah tentang memilih satu orang, bertahan dengannya dalam segala cuaca, dalam segala luka. Namun, kini aku mengerti bahwa terkadang, cinta juga berarti kehilangan-kehilangan harapan, kehilangan rasa percaya, bahkan kehilangan diriku sendiri dalam labirin luka yang diciptakan oleh seseorang yang seharusnya menjagaku. Arion adalah cintaku, atau setidaknya pernah menjadi. Aku mempercayainya lebih dari yang seharusnya, mencintainya lebih dari yang pantas. Namun, cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga. Tidak cukup untuk menghindarkanku dari rasa sakit yang berkali-kali ia hadiahkan. Tidak cukup untuk membuatnya berhenti mencari bahagia di tempat lain. Aku telah memaafkan, berkali-kali. Aku telah memberi kesempatan, hingga tak tahu lagi batas dari kata "cukup." Tetapi, sampai kapan aku harus terus bertahan? Sampai kapan aku harus mengorbankan kebahagiaanku sendiri demi menjaga sesuatu yang terus menerus hancur? Dan di sinilah aku, berdiri di persimpangan. Antara bertahan dengan luka atau pergi dengan sisa-sisa keberanian yang kupunya. Aku tidak tahu bagaimana akhir dari kisah ini. Yang kutahu, aku hanya ingin menemukan kembali diriku yang telah lama hilang.

More details
WpActionLinkContent Guidelines