Story cover for Liebe Illusion by nadhiladhil
Liebe Illusion
  • WpView
    Reads 258
  • WpVote
    Votes 32
  • WpPart
    Parts 5
  • WpView
    Reads 258
  • WpVote
    Votes 32
  • WpPart
    Parts 5
Ongoing, First published May 02, 2018
Kisah sang nona ceria dan tuan tembok. Hubungan mereka tak jelas kemana arahnya, mereka hanya mengikuti alur yang sudah Tuhan tentukan. Tak ada usaha sedikitpun dalam hubungan mereka, sekali lagi mereka hanya mengikuti alur Tuhan.

Mereka tak punya cukup pendirian dalam membangun sebuah hubungan, dimana ada api, disitu pula ada mereka. Hubungan mereka layaknya ombak dipantai.
All Rights Reserved
Sign up to add Liebe Illusion to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 10
Di Antara Akar dan Langit cover
Bad Lier [Completed] cover
DUA IMAN cover
Destiny cover
Raden Aluna cover
Hai masa lalu. cover
Ruang Tanpa Suara cover
Gardenia | END cover
Kisah Kita (CS) cover
Because of Fate [END] cover

Di Antara Akar dan Langit

8 parts Ongoing

Langit sore menggantung rendah di atas kampus yang tak lagi riuh oleh tawa mahasiswa. Hanya angin yang menyelinap diam-diam, menyapu dedaunan yang gugur terlalu dini. Di bawah pohon trembesi tua, Ikhram berdiri. Tegak, namun goyah. Matanya menatap cakrawala yang seolah sedang menunggu jawab. Sinta tak jauh darinya, namun dunia seakan telah menarik jarak tak kasatmata di antara mereka. Ia menggenggam berkas laporan yang pernah mereka tulis bersama. Tangan kecilnya gemetar, bukan karena dingin, tapi oleh beban kalimat terakhir yang belum sempat terucap. "Apa arti mencintai jika langkah kita saling bertentangan?" Ikhram tak menjawab. Langit sore memudar menjadi kelabu. Seperti hati mereka yang ragu: apakah cinta bisa tumbuh di antara kemarahan pada dunia? Mereka pernah seirama: pada slogan-slogan perubahan, pada malam-malam panjang di sekretariat, pada luka-luka yang disembunyikan di balik semangat. Namun kini, mereka berdiri di persimpangan dua jalan yang tak lagi sejajar. "Kau memilih diplomasi," bisik Ikhram, "sementara aku memilih api." "Dan mungkin keduanya akan gagal," jawab Sinta, nyaris seperti doa. Di sela desah angin dan detak jam kota, mereka melepaskan satu sama lain-tanpa janji, tanpa kepastian akan bertemu lagi. Hanya diam, dan senyum yang tak sempat penuh. Satu daun jatuh di antara mereka. Dan cinta pun menggantung, seperti langit yang belum selesai mencatat akhir cerita.