You Are The Reason

You Are The Reason

  • WpView
    Reads 620
  • WpVote
    Votes 270
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 7, 2018
Di setiap kejadian pasti ada sebuahnya alasan. Baik kejadian yang menyenangkan maupun menyakitkan. Dan salah satu alasan terbesar ialah seseorang. Terlihat sederhana, namun sangat bermakna. ♡♡♡ Kamu adalah Sebuah Alasan. Alasanku mengenal apa itu Cinta. Alasanku mengenal apa itu Jatuh. Alasanku merasakan apa itu Bahagia dan kecewa. -Renata Zaina Adijaya ♡♡♡ Aku telah menemukan tulang rusukku. Dialah wanita yang mengubah duniaku. Duniaku jauh lebih berwarna. Dia mengatakan bahwa ia mencintaiku, bahwa ia bahagia bersamaku. Tetapi, ada sebuah hal terjadi dalam hidupku dan hidupnya. Apakah aku pantas untuk memperjuangkannya? Apakah aku egois jika mempertahannya? Ataukah aku harus merelakannya? -Revano Akbar Rajendra
All Rights Reserved
#203
smile
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You're Here, But Not For Me
  • MAS !
  • Semesta
  • Pelangi
  • ALISHA (end)
  • Again?
  • NAREVAN ✔️
  • Kamu dan Negara S1 [SELESAI]
  • A Second Chance #Brotherhood 3 (Complete)

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines