My cold billionaire

My cold billionaire

  • WpView
    Reads 431
  • WpVote
    Votes 30
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Sep 25, 2020
Bayangkan saya jika kalian memiliki ceo yang sangat dingin dan bahkan terkenal dengan sebutannya sebagai seorang ladykiller, dan memiliki sifat yang sadis. Yang lebih parahnya lagi adalah aku dipaksa menikah dengannya karena perjodohan konyol kedua orangtuaku. "Kau harus menjadi istriku El,"ucap James dengan suara dingin namun tegas. Elia yang mendengarnya pun membelakan matanya dan menatang james dengan tatapan mata yang tajam. "Jangan harap dasar bodoh!!!" Teriaknya dengan suara lantang.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Don't call it love!
  • Where's Home
  • My Princess Ice [END] -proses revisi-
  • Brother & Me [END]
  • Cinta Istri Pengganti✔
  • Love Hurt ✔
  • Promise me and secret
  • My Mystirious Husband  (Complete)
  • Argetha (On Going)
  • Sepotong Luka

Semesta rasanya tidak berpihak pada Cyntia. Tidak hanya perusahaannya yang sedang berada dibawah roda kehidupan, tetapi neneknya sakit dan terus memaksanya menikah. Orang yang ia cintai dan mencintainya pun hilang tak ada kabar. Tak ada pertolongan rasanya. Pada akhirnya pilihan terburuk muncul. Ah, mungkin tak bisa disebut pilihan. Ia harus melakukan itu dengan terpaksa. Pria yang melukiskan kehidupan kelamnya pun muncul. Konyol rasanya saat pria itu mengajaknya menikah. *** Aku tak tahu apa itu cinta. Bahkan, saat ini bagiku itu satu kata yang abstrak luar biasa. Baginya rasa yang terasa itu cinta, tetapi mengapa rasanya merusak jiwa raga. Bagiku itu bukan cinta, melainkan suatu rasa yang amat hampa. Akhirnya satu kata menjadi beda makna. "Bukankah kau sangat membenciku?" Tanyaku. Ia diam, tanpa menatap mataku. Secara tak sadar aku tersenyum sinis padanya dan aku berusaha menahan rasa kesalku. "Apakah melemparkan susu basi ke wajahku adalah bentuk rasa suka?" Aku mengungkit masa lalu. Matanya pun mulai menatap mataku. Aku takut dengan wajah itu. Di bawah meja tersembunyi tangan gemetarku. Mataku berpura-pura tegar saat bertemu matanya itu. Aku berusaha bicara meski lidahku terasa kelu. Aku berusaha berdiri tegak meski kakiku tak berdaya. Waktunya pergi dari hadapannya. Aku akan katakan terakhir kalinya. "Jangan sebut itu cinta!" "Aku melamarmu bukan karena cinta. Bukankah, seharusnya kau yang memohon padaku agar kita bisa memanfaatkan satu sama lain?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines