We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Menanti Dia

Menanti Dia

  • WpView
    Reads 24
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Sun, May 6, 2018
WpInfo
Poetry
Cinta tak mengenal kasta. Ia berlari dan menghampiri si pemikat hati. Hanya dengan modal cinta ia berkorban untuk membahagiakannya. Semua dimulai dari cinta. Maka akan timbul kasih dimana saling mengasihi kemudian berkomitmen tinggi. Komitmen itu dibangun atas dasar saling memiliki. Tak sekedip hari menanti orang yang dipuja itu hanya dengan merenung, merangkainya dalam sebuah catatan, menyebut namanya ketika berdoa pada sang kuasa. Semua berawal dari rasa cinta dan menutup mata ketika azal tiba. Kebersamaan yang diinginkan. Itu cinta, cinta yang dinanti-nantikan bersama kasih yang jauh di mata. Di sini hanya mampu menafsir akan dirinya serta dalam tulisan ini hasrat rinduku memuncak laksana melodi yang mengaluni bayangnya dalam dinding ingatan dan akhirnya wujud itu tak hentinya menemaniku Padamu kasih yang jauh di mata
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You're Here, But Not For Me
  • Garis Singgung
  • Dunia Selalu Ingin Bercanda
  • Hubungan dalam Kerumitan (End)
  • I Love You
  • KETIKA HATI HARUS MERELAKAN
  • Cinta dan Takdir Rania [End]
  • SIYAHAT AL-'ASHIQ [TAHAP REVISI]
  • Pengantin Bayangan (SELESAI)

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines