Menanti Dia

Menanti Dia

  • WpView
    LECTURAS 24
  • WpVote
    Votos 3
  • WpPart
    Partes 1
WpMetadataReadConcluida dom, may 6, 2018
Cinta tak mengenal kasta. Ia berlari dan menghampiri si pemikat hati. Hanya dengan modal cinta ia berkorban untuk membahagiakannya. Semua dimulai dari cinta. Maka akan timbul kasih dimana saling mengasihi kemudian berkomitmen tinggi. Komitmen itu dibangun atas dasar saling memiliki. Tak sekedip hari menanti orang yang dipuja itu hanya dengan merenung, merangkainya dalam sebuah catatan, menyebut namanya ketika berdoa pada sang kuasa. Semua berawal dari rasa cinta dan menutup mata ketika azal tiba. Kebersamaan yang diinginkan. Itu cinta, cinta yang dinanti-nantikan bersama kasih yang jauh di mata. Di sini hanya mampu menafsir akan dirinya serta dalam tulisan ini hasrat rinduku memuncak laksana melodi yang mengaluni bayangnya dalam dinding ingatan dan akhirnya wujud itu tak hentinya menemaniku Padamu kasih yang jauh di mata
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Cinta dan Takdir Rania [End]
  • Rendra & Lila [END]
  • I Love You
  • -tentang Anna
  • Hubungan dalam Kerumitan (End)
  • You're Here, But Not For Me
  • Angel To Raya (END)
  • Pengantin Bayangan (SELESAI)
  • KETIKA HATI HARUS MERELAKAN
  • Dunia Selalu Ingin Bercanda

❝Keputusan berat yang harus aku ambil, demi menjagaku juga menjagamu adalah menjauhimu. Bukan karena benci, tapi karena aku mencintaimu. Semata agar kau dan aku tidak terjerumus dalam syahwat yang hina.❞ Begitulah kutipan tulisan yang aku tulis dan kutujukan untuk seseorang, cinta pertamaku. Assalamu'alaikum ... aku Rania Andinadya. Jika kamu bertanya kisah ini mengisahkan tentang apa ... ini tentang perjalananku dalam menemukan hingga harus belajar mengikhlaskan cinta pertamaku. Aku, begitu mencintai dia. Namun anehnya, aku sama sekali tidak pernah berani mengungkapkan perasaanku padanya. Sampai suatu masa, ketika cintaku mulai terbalaskan, hidayah-Nya perlahan-lahan mengetuk pintu hatiku. Aku pun menyadari, aku dan dia tidak seharusnya sering berinteraksi, demi menghindari syahwat yang hina. Meski telah berhijrah, cintaku kepadanya masih sama. Dalam diam, aku tetap mencintai dan mendo'akan kebaikan untuknya. Tapi, siapa sangka takdir malah berkata lain. Setelah menjauhinya sebab cinta, ia telah menemukan pujaan hatinya. Lantas aku berusaha mengikhlaskan, meskipun ikhlas adalah suatu hal yang teramat pelik. Dan satu pertanyaan terus mengusik pikiranku ... mampukah aku mengikhlaskannya?

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido