Masa lalu itu seperti spion. Cukup dilihat sesekali untuk membuat kita lebih berhati-hati dalam melangkah. Karena jika kita terlalu lama memandang spion, ya seperti yang terjadi padaku. Aku menabrakkan diriku ke pembatas jalan, melewati batas itu, dan terguling. Kendaraanku hancur. Aku terluka, bahkan melukai orang lain juga.
"Lalu aku harus bagaimana, Mas?"
Aku meraba dadaku. Aku tak punya jawaban atas pertanyaannya.
"Bagaimana dengan istrimu, Mas?"
Kembali, aku tak punya, atau lebih tepatnya tidak bisa menjawab pertanyaan Savitri, perempuan dari masa laluku, yang kutengok kembali akhir-akhir in.
Sementara, di seberang nun jauh di sana, aku yakin Ismi, istriku, dan Gusti, anakku, sedang menantikan kehadiranku.
All Rights Reserved