Baghdad, ketika dalam damai Gemerlap lampu-lampu jalan menerangi malam di jalanan kota Baghdad yang sudah dilapisi bebatuan teratur dan terstruktur dengan corak warna yang indah. Malam yang dingin terasa hangat karena keramaian kota yang penuh dengan hingar bingar orang-orang yang saling berinteraksi satu sama lain. Bercakap-cakap dalam keriuhan, tawar-menawar dalam berdagang, sesekali terdengar tawa terbahak dalam sebuah kedai, bahkan tak jarang terdengar sumbang caci maki dari orang-orang yang berselisih. Kota ini begitu modern. Bangunan megah menjulang tinggi mencakar langit. Pusat kota begitu ramai dengan lalu-lalang manusia yang disibukkan kepentingan masing-masing. Lampu-lampu bertebaran menerangi setiap sudut kota tanpa kecuali. Membuat kota ini laksana permata berkilauan yang hanya ada satu-satunya di dunia ini. Satu-satunya, karena Eropa pada masa itu dalam zaman kegelapan yang masih sangat terbelakang. Afrika jelas masih primitif. Belahan bumi Amerika masih belum ditemukan sebagai 'Dunia Baru'. Asia Timur dipenuhi orang-orang barbar. Hanya Asia Barat tepatnya di Baghdad ini yang menjadi pusat peradaban dunia. Cerpen Karangan: Ghaisan Alfatihusyawal Facebook: GHaisan ALfatihusyawalTüm hakları saklıdır
1 bölüm