Kisah Kakak Beradik yang malang

Kisah Kakak Beradik yang malang

  • WpView
    Reads 161
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, May 7, 2018
Baghdad, ketika dalam damai Gemerlap lampu-lampu jalan menerangi malam di jalanan kota Baghdad yang sudah dilapisi bebatuan teratur dan terstruktur dengan corak warna yang indah. Malam yang dingin terasa hangat karena keramaian kota yang penuh dengan hingar bingar orang-orang yang saling berinteraksi satu sama lain. Bercakap-cakap dalam keriuhan, tawar-menawar dalam berdagang, sesekali terdengar tawa terbahak dalam sebuah kedai, bahkan tak jarang terdengar sumbang caci maki dari orang-orang yang berselisih. Kota ini begitu modern. Bangunan megah menjulang tinggi mencakar langit. Pusat kota begitu ramai dengan lalu-lalang manusia yang disibukkan kepentingan masing-masing. Lampu-lampu bertebaran menerangi setiap sudut kota tanpa kecuali. Membuat kota ini laksana permata berkilauan yang hanya ada satu-satunya di dunia ini. Satu-satunya, karena Eropa pada masa itu dalam zaman kegelapan yang masih sangat terbelakang. Afrika jelas masih primitif. Belahan bumi Amerika masih belum ditemukan sebagai 'Dunia Baru'. Asia Timur dipenuhi orang-orang barbar. Hanya Asia Barat tepatnya di Baghdad ini yang menjadi pusat peradaban dunia. Cerpen Karangan: Ghaisan Alfatihusyawal Facebook: GHaisan ALfatihusyawal
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Bandungku Kini Berbeda [LEE HAECHAN]
  • MAREAPADA [Revision]
  • Syal Merah
  • 𓍢ִ໋🀦⊹ ࣪destiny and the moon⊹ ࣪ ˖࣪ ִֶָ☾. [Countryhuman]
  • Serenity
  • The Ice [TAMAT]
  • NOESIS [END]

Ada sesuatu yang begitu magis tentang Bandung-sebuah kota yang seolah diciptakan untuk menciptakan kisah cinta. Setiap sudutnya memancarkan pesona, setiap jalanannya memeluk siapa saja yang berjalan di atasnya. Bandung bukan hanya kota, tetapi sebuah ruang di mana hati saling bertemu, terhubung, dan jatuh cinta dengan cara yang sederhana, namun begitu dalam. Namun, cinta yang lahir di tengah keindahan tak selalu abadi seperti dongeng. Perlahan, waktu dan jarak menyusup tanpa permisi. Kebiasaan yang dulu terasa begitu akrab kini berubah menjadi kenangan yang mengendap. Tawa yang dulu bergema di sepanjang jalan, perlahan memudar, digantikan oleh keheningan yang menusuk. Sudut-sudut kota yang pernah menjadi saksi kebahagiaan, kini hanya menyimpan bayangan akan sesuatu yang hilang. Ketika raganya melangkah pergi, kota ini tetap berdiri-tetap indah, tetap penuh cerita. Bandung kini bukan hanya tempat yang mempertemukan dua hati, tetapi juga tempat yang memisahkan mereka untuk selamanya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines