CLOUDINESS | No Importa Quien Seas

CLOUDINESS | No Importa Quien Seas

  • WpView
    Reads 505
  • WpVote
    Votes 82
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jul 23, 2018
'Tak ada yang tau siapa mereka. Karena yang mereka tau hanya hidup itu perlu runtunan perubahan untuk tetap menghirup oksigen dan mengeluarkan karbondioksida.' ________________●●●__________________ Tentang dia yang terbuang. Tentang dia yang hanya seorang remaja 18 tahun yang masuk dalam sebuah jeruji kehidupan. Berteman dengan mereka yang juga dibuang oleh orang orang yang menganggap mereka adalah sampah. Hidup dibawah naungan orang orang tak mengenal aturan. Menyadarkan kita bahwa orang jahat sekalipun, pasti punya sisi malaikat dalam dirinya. Orang baik saja pasti punya sisi buruk. Menghabiskan hidup bersama perempuan hebat dihidupnya, perempuan dengan 1001 topeng yang menyesatkan pandangan orang tentang dirinya. Bukan. Bukan seperti menyembunyikan kedok dari sifat licik, ini jelas berbeda. Topeng terlihat baik baik saja saat semesta seakan ingin membunuhnya, topeng dengan gaya manjanya yang hanya ditujukan padanya, topeng yang menunjukan bahwa ia terlihat bahagia saat orang orang yang seharusnya mereka sebut keluarga justru orang pertama yang ingin memusnahkannya. Ini tentang dia dan dianya, tentang cara bagaimana mereka bertahan disaat semesta seakan menenggelamkan. Tentang cara bagaimana mereka tetap berdiri tegak saat sebuah munisi datang mematikan saraf. ※ ※ ※ ©copyright 2018 by:nanindya DON'T COPY MY STORY!! :)
All Rights Reserved
#249
harapan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hopeless
  • After I Met You (Hiatus)
  • ABLUVION {COMPLETED}
  • ARABELLA [Hiatus]
  • Valcano
  • Mysterious Girl
  • Paradise
  • TITIK LUKA
  • You Are Mine [Terbit]
Hopeless

Repost update rutin setiap Rabu, Jumat dan Minggu di jam 8 malam :"-) :::: Kita adalah kisah happy ending dengan epilog yang menyakitkan. :::: "Sakit." Bukan. Bukan lukanya namun perasaannya. Ia menarik napas panjang, dadanya teramat sesak, bahkan bernapas pun begitu menyakitkan. "Tuhan, tolong dengar, aku mau pulang." Lirihan yang penuh duka keluar begitu saja. Semesta seolah senang melihat senyum di sudut bibir Jeslin bertambah pudar. "Aku hanya penikmat luka yang tidak pernah mengerti cara untuk sembuh." "Terluka lalu lupakan" "Sulit, tapi aku sanggup." "Terima kasih atas semua luka yang tak pernah berujung."

More details
WpActionLinkContent Guidelines